03 September 2010

Sang Penggunjing


Posting berikut ini diilhami keprihatinan gw terhadap temen gw yang suka “lay her/ his finger” dan ngomongin masalah hidup orang lain. Dulu sama anak-anak dia dapat julukan Miss/ Mister Wanna Know, gara-gara kepiawaiannya nyari info tentang masalah-masalah orang lain, biasanya dia akan bilang, “ Kasih tau aku, kasih tau aku.” Dan gw pun masih ingat ekspresinya, bagaimana dia merasa puas banget, setelah tahu masalah orang lain tadi, jujur, gw muak liat ekspresi itu.

Yap, mari kita mulai dengan basa-basi, pada dasarnya manusia itu butuh untuk berkomunikasi satu dengan yang lainnya . dan terdapat sekian banyak cara manusia berkomunikasi, salah satunya adalah berbincang-bincang alias ngobrol alias ngrumpi. Kegiatan ngrumpi ini lebih didominasi oleh kaum berkromosom XX daripada XY, meskipun gw ngga’ bisa menggeneralisasikan bahwa semua cewe suka ngrumpi dan ngga’ semua cowo suka ngrumpi, tapi “ya, sebagian besar cewe lebih suka ngrumpi daripada cowo.” Bahan-bahan obrolan pun bermacam-macam, dan dari sekian banyak bahan obrolan yang sangat menggangu menurut gw adalah saat bahan obrolan itu kehidupan orang lain, apalagi kalau yang diperbincangkan adalah kehidupan kita. Yang lebih memprihatinkan lagi kegiatan ngga’ guna ini juga didukung dengan banyaknya tayangan infotainment di TV dan bahkan ada yang sampai 3 kali sehari, udah kaya jadwal makan aja.

Orang-orang yang suka ngomongin hidup orang lain ini (yang untuk selanjutnya kita sebut penggunjing) biasanya suka mencari-cari info tentang orang lain, mereka mengamati, menyoroti kehidupan orang lain. Saat sesuatu hal terjadi pada orang tersebut, seperti mendapatkan durian runtuh, mereka akan bersorak gembira mendapat bahan obrolan murahan untuk diperbincangkan, such a wasting time. It’s OK kalau yang mereka perbincangkan adalah hal-hal baik yang terjadi tentang seseorang, but in fact mereka lebih senang dan hanya membicarakan keburukan orang lain. Padahal manusia kan ngga’ mungkin lepas dari yang namanya kesalahan, kesalahan selalu mengiringi hidup manusia, untuk itulah mereka belajar untuk menjadi benar. Tapi para penggunjing ini berfikir seolah-olah hidup merekalah yang paling sempurna, tanpa cacat, hidup obyek pembicaraan mereka sebegitu hinanya di mata mereka, padahal hidup mereka tak lebih hina daripada obyek yang mereka bicarakan.

Kebiasaan menggunjing ini membutakan kepekaan hati mereka terhadap kebenaran. Karena hal yang mereka cari adalah keburukan, kebaikan seseorang di mata mereka sungguh tidak berarti dan bahkan kesalahan kecil bagi mereka bisa menjadi sesuatu keburukan yang fantastis. Saat mereka mendapatkan suatu berita tentang keburukan orang lain, tanpa melakukan cek dan ricek, mereka akan langsung menganggap keburukan orang lain adalah fakta yang patut disebarluaskan. Ya kalau berita itu benar, kalau ngga’, berbuat fitnahlah mereka, dan sesungguhnya fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan lagi jika hal buruk tersebut menyangkut “temen ngrumpinya”, mereka akan begitu meresapinya, seolah-olah bener-bener ikut mengalaminya. Kalo temen ngrumpinya benci ama seseorang, dia juga ikut benci, aneh memang, tapi ini nyata. Kalo gw sih, buat apa menodai hati kita dengan rasa benci, lagian itu ngga’ ada hubungannya ama kita, toh dunia ngga’ akan berubah dengan kita ikut-ikutan membenci seseorang, yang ada cuman hati kita jadi busuk karena dijejali dengan rasa benci, what a pity! Dan yang bikin makin dongkol adalah, mereka masih bisa pasang wajah manis di depan orang yang mereka benci, bahkan cameo ataupun artis sinetron paling jago pun kalah kemampuan “kamuflase”nya dibanding para penggunjing ini.

Selain itu, dalam agama pun, kegiatan gunjing-menggunjing sungguh dilaknat dan disamakan dengan memakan bangkai saudaranya sendiri. Dalam Al Qur’an Surat Al Hujurat ayat 12, Allah berfirman, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya”. Dalam hadist juga, Dari Anas radhiyallahu ‘anh, Beliau berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Pada saat di mi’rojkan saya melewati satu kaum yang memiliki kuku dari tembaga, mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Maka saya bertanya: “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang makan daging manusia (berbuat ghibah) dan mencela kehormatan orang lain” (HR.Abu Dawud).

Sebagai penutup, posting ini dibuat bukan dengan maksud menyindir, memojokkan atau mengolok-olok seseorang, namun agar kalian yang masih suka membicarakan ataupun ikut campur dalam hidup orang lain ataupun yang tidak agar menjauhi hal-hal ngga’ penting ini. Tengoklah diri kita terlebih dahulu, masih banyak kekurangannya bukan. Dan juga, orang lain hidup dengan cara mereka sendiri, hidup dengan pilihan mereka sendiri, selama mereka tidak menyimpang sah-sah saja bukan. Lagian kita juga pasti merasa risi kalau ada orang yang ikut campur ataupun menjadikan hidup kita sebagai obyek pembicaraan mereka. Mungkin kita bakal bilang, “ Ini kan hidup-hidup gw, terserah gw mau ngapain, gw mau tidur sambil kayang ya terserah gw, gw mau makan sambil ngupil juga terserah gw, so what’s the matter with you?”.

24 Ramadhan 1431 H, Kamar Sebelah Garasi.

NB : Judulnya terinspirasi oleh banyaknya buku-buku baru yang judulnya dimulai dengan kata " Sang".

25 Juni 2010

Hujan

Untukmu :

Kalau malam adalah berarti gelap, maka malam turun lebih cepat hari ini. Baru tengah hari dan mendung mengakhiri hari lebih cepat kali ini. Jelaga hitam menggelayut rata menutupi langit, meskipun di sebelah utara terlihat sedikit lebih terang. Sungguh kontras dengan suasana cerah pagi tadi.

Belum ada setengah jalan jarak yang kutempuh untuk sampai ke tempatmu, tapi nampaknya langit sudah tak sabar lagi menumpahkan semua yang dikandungnya ke bumi. Kuputar tuas gas motor butut kakakku sekencang mungkin sebelum tertangkap hujan. Semua orang nampak terburu dalam suasana muram seperti ini, jalanan dipenuhi kendaraan-kendaraan yang dipaksa pengemudinya sampai ke tujuan sebelum hujan turun.

Sampai aku di jalanan dengan sawah menghampar luas di kanan kiri, meskipun entah sampai kapan hijaunya digantikan warna-warni bangunan. Dari arah berlawanan banyak pengendara motor dengan mantel hujan dan beberapa basah kuyup tanpa mantel hujan. Kucium angin lembab yang berhembus membawa aroma hujan, aroma paling indah menurutku, seolah membawa pertanda akan ada kesenangan di depan. Kutepikan motorku, mencoba bersiap-siap menerjang hujan. Kubuka bagasi motorku, astagfirullah, kosong, ahh, aku lupa memasukkan lagi mantel yang kupakai kemarin, mungkin masih di atas meja dalam garasi. Mau bagaimana lagi, sedikit menyesal dan merasa bodoh kuteruskan perjalananku.

Masih di jalanan penuh sawah, belum lama aku melaju, brrrruuuuuuussss, akhirnya dimulai juga, langit menghujani bumi dengan panah-panah airnya. Kulihat sebuah gubug yang nampak kesepian mungil berdiri di jalanan seperti ini, kutepian motorku sekali lagi ke sana. Mungkin gubug ini dipakai pendirinya untuk menjual ikan, entah ikan laut atau apa, terlihat sisik-sisik berbau amis tertinggal di meja dengan tinggi sepahaku yang tepat terletak di tengah gubug dengan kursi panjang yang tak terlalu tinggi berada di belakangnya. Dinding gubug terbuat dari anyaman bambu yang menutupi seluruh bagian belakang gubug, dan dibiarkan terbuka di bagian depan dan samping-sampingnya, sehingga menyisakan ruang untuk para pengendara yang mungkin berminat membeli. Rusuk-rusuk atapnya dibuat dari batang-batang bambu dengan genteng-genteng tua berwarna coklat yang disusun kurang rapi sehingga air hujan menetes di beberapa tempat saat hujan seperti ini, membuat lubang-lubang air di lantai tanahnya. Aku tak suka menunggu dan pula tak suka membuat orang menunggu, meskipun pada dasarnya menunggu hanya membutuhkan sedikit kemampuan untuk duduk dan bengong dibumbui dengan sedikit kesabaran, tapi tak usah dipungkiri semua orang menganggap menunggu itu membosankan, meskipun menunggu membuat kita lebih bijak, kadang-kadang. Nampaknya kau harus menungguku kali ini, Tuhan tidak mengizinkanku sampai di tempatmu tepat waktu.

Hujan yang turun tak begitu deras, titik-titik airnya tidak begitu besar, tapi mendung yang tadi kelihatan pekat kini berubah agak putih cerah, tampaknya hujan akan turun lama. Kuambil HP dan earpiece dari tasku, kuputar lagu-lagu pelan pengantar hujan untuk membunuh waktu. Kendaraan yang melaju di jalan lebih sedikit, hanya beberapa mobil yang sekali-kali lewat seolah tak terganggu oleh hujan, banyak mungkin pengendara motor yang bernasib sama sepertiku.

Aku selalu suka hujan, dia tak pernah terlalu ekspresif, namun selalu impresif, tak pernah sama dan selalu meninggalkan kesan yang berbeda, terkadang kalau kita beruntung hujan memberi kita bonus busur-busur warna di udara. Entah hujan berarti tangisan kesedihan ataupun rasa cinta langit pada bumi, yang pasti hujan selalu memberi kehidupan baru di bumi. Setengah jam sudah aku menunggu, namun nampaknya hujan belum menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti, malah rasa-rasanya semakin deras, yang berarti bagus untukku, hujan akan selesai lebih cepat. Angin bertiup agak kencang, membawa butir-butir hujan seolah tak rela aku tak merasakan nikmatnya air hujan. Kulihat genangan air di atas aspal tak bisa tenang, beriak dipukul terus-menerus air dari atas, terkadang ada mobil yang lewat mengosongkannya, tapi tak berapa lama akan penuh kembali, begitu berulang kali. Lagu di playlistku sudah habis, ingin rasanya kuterjang hujan ini, tapi aku tak ingin melihat wajah cantikmu saat marah. Kau selalu memarahiku saat aku bernyanyi bersama hujan, saat airnya membasuhku. Tapi aku juga tak kuasa membayangkan dirimu terjebak dalam kebosanan menungguku. Tapi daripadanya aku lebih memilih yang pertama, aku akan menunggu sampai hujan reda.

1,5 jam sudah aku terjebak di gubug kecil di tengah jalanan sepi ini, aku mulai terbiasa dengannya. Awan mulai semakin tipis, sedikit sinar matahari menerobos melewatinya, memberi pertanda sebentar lagi hujan akan pergi. Burung-burung sriti berkejaran riuh di antara air yang jatuh, seolah tidak peduli udara dingin hari ini. Kuputuskan saat tetes air mengecil aku akan melanjutkan perjalanan, tapi kapan?

Irama hujan masih merdu terdengar, tik..tik..tik..jatuh terurai menghantam genteng dan akhirnya jatuh ke tanah bergabung dengan titik-titik air yang jatuh terlebih dahulu, mengalir entah kemana. Terlihat beberapa petani bergegas memanggul cangkul berjalan melewati pematang sempit yang membelah lahan-lahan mereka. Wajah bahagia dan rasa bersyukur terlihat dari langkah mereka yang bersemangat, Tuhan menyirami lahan mereka, masa panen akan tiba, hijaunya sawah-sawah ini akan berubah dipenuhi bulir-bulir emas tak lama lagi. Namun kukira kebahagiaan itu tak dirasakan oleh pedagang-pedagang yang kehilangan pembeli di saat hujan seperti ini.

Tak berapa lama titik-titik hujan mulai mengecil, lebih terlihat seperti jarum-jarum halus yang jatuh. Langit juga mulai cerah, meskipun belum menampakkan birunya, namun setidaknya tidak muram seperti beberapa waktu lalu. Jalanan yang tadi lengang kini mulai sedikit ramai oleh beberapa motor yang lewat. Yah, saatnya beranjak melanjutkan perjalanan. Kusapu sisa-sisa air yang menempel di jok motorku, kulihat sekali lagi gubug mungil itu, aku tak tahu bagaimana cara berterima kasih padanya, tapi seandainya saja aku bisa. Kau tidak akan merindukanku, karena kita akan bertemu lagi saat perjalanan pulangku nanti.

Aku harus bergegas, kupacu lagi motorku secepat dia bisa. Tak sabar aku sampai ke tempatmu, melihat senyum manismu. Semoga hujan tak menipuku dengan menurunkan hujan lain di suatu tempat di depan. Mungkin aku akan sedikit lebih lama, karena aku harus mampir ke toko bunga lebih dulu.


Pinangga 22, My Idea Tank, June 25, 2010

08 Mei 2010

The Majapahit Trilogy, Sekelumit Ide di Atas Sofa Butut

Jumat, seperti biasa setelah Sholat Jumat beberapa Pinangger akan terlihat berkumpul di sofa butut di depan TV 29” dengan remotenya yang tak kalah ancurnya karena sering didudukin, ngobrol segala sesuatu yang pengen diobrolin. Tadi kebetulan cuma ada gw ama Munif, karena kita soljum di Al Barkah yang deket kost dan terkenal khotbah Jumatnya cepet, hhe, kloter An Nur masih belum ada yang tampak batang hidungnya. Tiba-tiba layar kaca mempertontonkan iklan film Bollywood judulnya Don, yang main Sharukh Khan, di iklan itu ada beberapa adegan-adegan yang lumayan keren. Dimulailah percakapan kita tentang perfilman Indonesia yang super cupu saat ini. Perbincangan diawali oleh Munif

“ Orang India keren juga ya bisa bikin kaya gitu, padahal film itu udah dibikin tahun berapa itu, Indonesia ini bisa sebenarnya, bisa juga, Indonesia ini kaya kali sebenarnya, coba dibikin film kolosal tentang Majapahit, trilogy gitu, pasti box office deh.”

Karena masih laper gw jawab dengan pesimis,

“ Mana laku Nif, orang Indonesia mah pasti ga doyan nonton film gitu-gituan, yang ada film-film horror ga jelas, padahal sebenernya mah bokep nanggung”

“ Woiss, jangan salah, sebenarnya kita kurang publikasi aja, jadi masyarakat pada ngga mau nonton, coba kita ntar bikin trus diikutin festival-festival film internasional, pasti ntar orang-orang Indonesia tertarik juga, siapa sih yang ngga mau nonton film box office, tengoklah Laskar Pelangi.”

Akhirnya tercerahkanlah otak bebal gw,

“ Bener juga ya, publikasi gede-gedean aja, bikin semua orang penasaran, ntar pasti pada tertarik buat nonton, sebenernya film-film indie itu bagus-bagus, cuman kurang publikasi aja., tapi yang bikin produser-produser film males buat film kolosal itu gara-gara biaya buat film gituan pasti mahal.”

“ Tapi kan ntar incomenya gedhe juga, dikasih lah subtitle bahasa inggris, kita pasarkan di luar negeri, pasti laku, liat aja China banyak film-film tentang kerajaan mereka.”


Tiba-tiba datang Dhani diikuti akang warung mie depan dengan pesanan indomie telur rasa soto ayam buat makan siang gw.

“ Pada ngomongin apa ni?”

“ Majapahit trilogy Dhan.” celetuk gw sambil bayar mie ke Aa'.

“ Jadi kalo di Indonesia ini dibikin film tentang Majapahit gitu pasti laku, ya ngga?”

Dhani pun terbawa ke perbincangan.

“ Eh iya, bener juga lho, cuma masalahnya kita ini kurang bangga ama budaya sendiri.”

Munif nambahin,

“ Liat aja Jepang, negaranya kecil gitu, ngga pernah ekspansi ke luar, tapi samurainya terkenal kemana-mana, masa Indonesia yang gedhe gini ngga bisa.”

“ Dibikin waktu perang lawan prajurit Mongol, pasti seru, senjata dimana-mana, dibumbui ama kisah-kisah cinta gitu, misalnya waktu nglamar putrid yang dari Campa itu, pasti keren, kalau aku konglomerat, udah aku bikin tu film.”

Seiring pembicaraan mie gw tinggal setengah, si Aa’ ni bikinnya kebanyakan airnya, hmmm.

“ Iya, cuman jangan dikasih efek-efek terbang gitu, ntar malah jadi freak, dibikin alami aja, kaya film Troy, Arthur gitu.”

“ Dikasih efek-efek juga nggak apa-apa, asal efeknya bener-bener bagus.”

“ Nggak ah, kita harus bikin se-real mungkin, bayangin aja Gajah Mada pegang keris sambil diikuti prajuritnya yang banyak, wuuuuh., pake bahasa Jawa lagi, hahahaha, pasti keren” Chauvinisme gw keluar.

“ Mbuahmu pake bahasa Jawa, pakai bahasa Sansekerta lah, tapi apa ada yang masih bisa, pake bahasa Indonesia trus dikasih subtitle bahasa inggris aja”

Sreeeet, tiba-tiba gw terlintas aja nama Adipati Unus di pikiran gw,


“ Atau kalau ngga dibikin tu perang pas Adipati Unus nyerang Portugis di Selat Malaka, dibikin kaya waktu perangnya di Pirates of The Carribeans, keren juga tuh, banyak meriam-meriam gitu.”

“ Bisa juga serangan Panembahan Senopati ke Batavia, banyak lah kalau mau digali.”

“ Boleh juga tu, intinya kita tu sebenernya punya banyak potensi, cuman pada terpaku ama trend aja para pembuat film itu, jadinya ya monoton.”

“ Mereka-mereka pada mentingin income sih, coba kalau pada mentingin kualitas film, bukan artist sejatilah.”

Akhirnya gw kenyang, mie gw habis, percakapan pun berakhir, hehe. Pesan buat sineas-sineas Indonesia lah yang punya kapasitas buat mewujudkan mimpi kita buat perfilman Indonesia yang bermutu, berkaryalah untuk karya itu sendiri, jangan berkarya karena materi, niscaya materi itu akan ngikut sendiri, nama kalian pun akan abadi bersama karya kalian. Dan buat sineas-sineas yang belum tercerahkan yang masih bikin sinetron-sinetron, atau “drama” reality (reality yang didramatisir), tobatlah kembali ke jalan yang benar, gali potensi kalian, udahlah cukup bikin sampah-sampah yang membodohi masyarakat.

Ditulis jam 1-an malam, abis nyuci, semoga cucian gw besok kering, :p

06 Mei 2010

Negeri di Atas Awan


Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang neg'ri di awan
Di mana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kau bawa
Aku menuju kesana


Secuil lirik lagu tentang negeri impian di atas mungkin memang hanya bisa kita dapati di dalam sebuah lagu, sebuah negeri dalam angan-angan belaka

Tengoklah sebuah negeri bernama Indonesia,
dimana uang menjadi istananya
dewan perwakilan berulah bagai hewan
pelacur dijadikan pimpinan
yang benar disalahkan
yang salah dibenarkan
rakyat kecil yang jadi korban


Di negeri ini orang cerdik pandai dibuang, Sri Mulyani Indarwati, Srikandi Reformasi, manusia berkompeten, disia-siakan setelah jasanya menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi global, setelah reformasi pajak yang menaikkan pendapatan Indonesia. Sebuah wacana di negeri ini, sepintar apapun orangnya, sekompeten apapun orangnya, kalau suaranya berbeda akan tersingkir juga. Tidak cuma dia, dahulu Sang Jenius Habibie juga mengalami nasib yang sama, dibuang, tak dihargai. Bagaimana negara ini bisa maju kalau penghargaan kepada para warganya tidak ada,. Terbukti negara yang maju adalah negara yang bisa menghargai warga negara mereka , Mungkin sudah bawaan dari orok orang-orang di negeri ini lebih suka melihat kejelekan orang daripada kebaikan mereka. Tapi memang mereka lebih baik keluar dari negeri ini, mereka lebih dihargai di sana dan mereka lebih bisa memberikan kontribusi mereka pada dunia setidaknya.

Sebenarnya apa yang salah dari negeri ini?

Semuanya? tidak juga, negeri ini masih memiliki banyak orang baik, hanya saja sedikit dari manusia-manusia busuk lah yang memegang kekuasaan. Wakil rakyat, menggembar-gemborkan atas nama rakyat, aspirasi rakyat dijadikan tameng, tapi apa? mereka bicara atas nama partai, golongan, aspirasi rakyat mana yang mereka sampaikan. Setiap saat meminta kenaikan gaji, meminta fasilitas dengan biaya yang waaah, fasilitas laptop 15 juta per ekor, buat apa sih, ngga guna, beberapa dari mereka bahkan tidak bisa mengoperasikannya. Gedung senilai 18T, berapa banyak sekolah-sekolah yang rusak, berapa banyak sarana-sarana umum yang memerlukan perbaikan? Semua anggota Hewan Perwakilan hanya memikirkan perut mereka sendiri, otak mereka benar-benar bebal. Lihat apa kerja mereka, rapat absen, datang pun hanya tidur, beda pendapat berantem. Benar kata Gus Dur, DPR itu seperti taman kanak-kanak.

Kasus century pun harusnya sudah bisa diselesaikan sejak dulu, DPR lah yang memanjang-manjangkan, bikin pansus lah, lihat apa hasilnya? pemborosan, rapat sana-sini, duit negara dihambur-hamburkan, hasilnya nihil, tapi setidaknya memberi tontonan rakyat bahwa mereka berisi orang-orang dengan mulut yang tak terdidik & otak yang dangkal. Dari recruitmentnya aja udah salah, di negeri ini kalo ngga punya duit ngga bisa dapat kekuasaan, money politik dijadikan patokan, mereka mengeluarkan duit yang ngga sedikit buat duduk di Senayan. Hasilnya, di Senayan mereka berusaha balik modal, mengadakan lah mereka yang seharusnya ngga ada, bikin lah mereka kebijakan-kebijakan yang sama sekali ngga bijak, intinya semua seperti lagunya Slank, ujung-ujungnya dhuit, wtf.
Selain itu KPK, satu-satunya harapan negeri ini bisa bersih pun dikebiri dengan undang-undang bikinan Hewan Perwakilan yang terhormat, penyadapan harus ijin lah, pembatasan wewenang lah, terus buat apa KPK, sebuah super body tanpa superioritasnya? Macam macan ompong. Mereka yang membentuk KPK, mereka pula yang mempretelinya, konyol.

Di negeri ini, partai-partai banyak sekali,
semua bicara atas nama rakyat,
mengayomi orang-orang melarat,
tapi semua sama, isinya hanya orang-orang keparat


Menurut gw, terlalu banyak partai di Indonesia ini, terlalu banyak benturan kepentingan. Yang biru lah, merah lah, kuning lah, hitam lah, semuanya sama saja. Akhirnya terjadilah yang namanya bicara untuk golongan, kebijakan yang dibuat menguntungkan sebagian orang saja, rakyat juga yang akhirnya dirugikan.

Di negeri ini hukum seperti mainan
Hakim-hakim mata duitan
Keadilan diperjualbelikan
Koruptor bebas berkeliaran
Preman desa masuk bui
Maling ayam mati dipukuli


Penegakan hukum di negeri ini pincang, markus-markus untuk mereka yang berduit agar bisa terhindar dari hukuman. Banyak professor, guru-guru besar bidang hukum, sarjana-sarjana hukum di negeri ini, gw yakin mereka orang pintar, tapi gw ngga yakin hati mereka sepintar otak mereka. Satu orang pintar yang ngga punya hati lebih berbahaya daripada sepasukan prajurit bersenjata. Dibalik-balikin lah hukum di negeri ini, Gayus yang jelas-jelas sampah di negeri ini divonis bebas dengan alasan yang sumir, sementara Nenek Minah, seorang tua renta, yang hanya karena memungut sebiji kakao yang jatuh ke tanah divonis penjara 1,5 bulan, ironis bukan.
Polisi pun sama saja, yang katanya mengayomi masyarakat malah diayomi masyarakat, pungutan-pungutan atas nama keamanan lah, benar kata Gus Dur di negeri ini hanya ada 3 polisi yang jujur, Hoegeng, patung polisi, dan polisi tidur, lainnya?

Tapi gw yakin suatu saat nanti akan datang saat di mana masyarakat bisa menilai mana yang benar dan salah dan akan orang yang berhati yang memimpin negeri ini, tapi kapan? No one knows. Dan suatu saat entah kita, atau mungkin anak cucu kita akan bercerita :

Dahulu kala ada sebuah negeri sirkus
Di mana petinggi-petingginya adalah badut
Negara dijadikan lelucon
Lucu sekali

But the circus must go on.

nb : kata penjaga kost gw, si sampah jayus Gayus sutambun alumni kostan gw lho, aduh bikin malu Pinangga aja,

23 Januari 2010

Dini Hari

Dini hari,
Begitu nama yang mereka berikan, terjebak di antara malam dan pagi.

Dini hari,
Saat berusaha meyakinkan bahwa keraguan-keraguan itu tak lebih dari sebuah kekhawatiran belaka.

Dini hari,
Saat mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan yang bahkan tak memerlukannya.

Dini hari,
Saat berusaha membuka apa-apa yang ditutupi.

Dini hari,
Saat mengecap hambarnya hari.

Dini hari,
Saat mereka terlelap, saat Tuhan terjaga.

Dini hari,
Saat serpihan-serpihan ketenangan berserakan.

Dini hari,
Karena aku memilih begitu.


Kamar Gelap, 24 Jan 2010

18 Januari 2010

Kebakaran

Seperti biasa sore di Pinangga, TV di ruang tamu dipantengin anak-anak kurang kerjaan yang ngliatin 1 bola direbutin 20 orang, dan seperti biasanya pula gw lebih seneng tidur & mendengarkan sorak sorai mereka dari kamar gw yang nyaman. Berhubung tingkat kebisingan yang mengalahkan suara hujan di luar maka acara tidur sore itu pun ditunda. Bingung mau ngapain gw nyalain si putih jelek yang membawa gw menjelajahi dunia maya.

Tiba-tiba Munif, si medan penunggu kamar nomor 24 masuk dengan rokok menyala-nyala, ngambil asbak di atas meja gw, trus nangkring di atas kasur.

“ Eh, Nu lw udah punya album 30 Seconds to Mars yang baru belum?”
“ Cari gambarnya dhonk, telkomshit gw nggak nyambung-nyambung ni.”

Jadi Munif ini sama kaya gw, ngga suka bola, cuma kalo gw stadium 5, alias cuma mau nonton bola pas world cup aja, dia stadium 4 lah, masih tau nama-nama pemain bola. Dan yang paling unik dari dia adalah dia itu lebih lama hidup di dunia maya, maen gamenya itu lho, berhenti paling cuma buat makan ama kuliah, selebihnya habis di depan laptop, meskipun dengan jaringan minim dari telkomshit ( makanya pake M2, heheh promosi).

“ Wah, gw cuma punya This is War ama Kings and Queens dhoank, lw cari aja sendiri dah, gw nitip kamar gw bentar yak, gw mandi dulu”

Berhubung sekarang gw udah nggak phobia ama air, maka Munif gw tinggalin sendiri di kamar gw.

Kebiasaan gw adalah kalo udah masuk di kamar mandi suka bengong-bengong sendiri, pikirannya kemana-mana, alhasil kalo mandi gw suka lama, padahal sebenernya kalo dikurangi acara bengong-bengongnya paling ngga nyampe 5 menit juga udah kelar.

Tiba-tiba di tengah acara bengong ria, gw mencium bau-bau asap tapi beda ama bau asap rokok. Gw sih ngga curiga, paling Bang Koplo, penjaga kost gw, lagi bakar sampah ato apalah hujan gini biar anget.

10 menit kemudian, badan gw udah seger, wangi lagi, gw keluar kamar mandi dan Masya Allah, kamar gw penuh asap, dan Munif dengan nyantenya masih duduk manis di depan laptop, padahal ½ meter dari dia kasur gw meronta-ronta kepanasan.

“ Woy Nif, kasur gw kebakar tuh, matiin – matiin cepet.”

Dengan sadisnya Munif ngambil kaos gw yang kebetulan di atas kasur, dikebut-kebutinlah itu kaos di atas kasur gw. Bukannya baranya mati, eh baranya makin gede, asap di kamar gw pun makin banyak, ampuuuun.

“ Ambil air Nif, cepetan kasur gw bisa abis ni.”

Dengan air segayung, matilah bara yang dengan sadisnya menyisakan lubang hitam sebesar bola basket di kasur gw.

Tersangka dari kebakaran ditetapkan adalah bara rokok Munif yang jatuh ke kasur gw, dan setelah dilakukan pendataan, ternyata ada 2 korban jatuh, yang pertama kasur gw dan yang ke-2 adalah kaos gw ikut bolong, salah apakah kaos hambaMu ini ya Allah.

Setelah insiden tadi, dengan polosnya Munif cerita,

“ Tadi itu sebenernya gw juga curiga ada bau-bau asap gitu, rokok udah gw matiin, gw keluar kamar kok ada juga baunya, jadi gw mikirnya itu bau dari luar.’”

Munif…Munif..

Akhirnya malam itu gw tidur di atas karpet.T.T

Dan esoknya Munif kena penalti 100 ribu, buat biaya perbaikan kasur gw, oh Munif malangnya nasibmu.

Pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini adalah hati-hati jika Munif masuk ke kamar kalian, hehe, & jangan merokok ( di atas kasur).

19 November 2009

Senja di Atas Bus Kota

Matahari sudah menua, di barisan belakang aku duduk menyenderkan kepala di atas meja dan berharap kuliah pengganti ini cepat selesai. 16.25 dan 3 SKS Lab Akuntansi selesai juga, bergegas aku menuju kost baruku, sebuah kamar mungil dengan 2 daun jendela menghadap lapangan bola yang selalu mempertontonkan keramaian membosankan. Kumasukkan sedikit pakaian ke dalam tas hitamku, dengan sedikit garis kuning, yang selalu membawa buku-buku tebal melelahkan dan segera bersujud di lantai bumi menjalankan tugasku sebagai makhluk.

Kutelefon Akbar, sahabat dari tanah Palembang, agar sudi meluangkan sedikit waktunya mengantarkan aku ke pangkalan bus kota di Lebak Bulus.

Senja seperti ini, saat orang-orang pulang bekerja, pemandangan yang biasa jalanan ibukota dibanjiri motor-motor dan mobil-mobil, dan setiap orang harus bertaruh dengan urat kesabaran mereka. Bintaro – Lebak Bulus yang harusnya ditempuh 15 menit berjalan lambat menjadi 40 menit.

Tampak di seberang, halte Transjakarta yang belum lama beroperasi ramai sesak, dipenuhi orang-orang dengan raut muka seragam, terpenjara. Sebuah bus kota tua berwarna putih mulai menampakkan mukanya, ucapan selamat jalan tergumam dari mulut Akbar bersambut ucapan terima kasih dariku.

Masuk aku ke dalam bus kota tua beraroma karat dan duduk di kursi berbahan melamine di dekat pintu masuk depan. Hanya ada beberapa orang di situ, dan semuanya menunjukan raut muka yang sama, ingin cepat mereka sampai di rumah.
Laju bus terhenti di lampu merah perempatan Lebak Bulus, polisi jalanan berteriak-teriak mengatur letak angkutan-angkutan yang serampangan, kupikir, kerja mereka lebih baik daripada polisi betulan. Kondektur bus menarik ongkos mulai dari belakang, hingga akhirnya sampai padaku, kuberikan selembar uang 5000-an, dikembalikannya 3000, 1 lembar 2000-an dan selembar 1000-an. Di situ bus mulai dipenuhi penumpang, 2 orang gadis ikut masuk dari pintu di depanku, salah satu dari mereka membawa ukulele dan mulai bernyanyi. Aku tak tahu lagu apa itu, tapi yang pasti berisi tentang ratapan karena ditinggalkan seseorang, aku tak begitu menikmatinya. Laju bus tersendat, terhalang iring-iringan motor yang bergerak lincah, berusaha saling mendahului supaya berada di barisan paling depan. Dan akhirnya bus benar-benar berhenti saat mengantri di pintu tol di depan dealer Audi Simatupang. Setelah menyanyikan 3 lagu, mungkin, 2 orang pengamen tadi berhenti menyanyi dan mengharap sedikit kemurahatian para penumpang. Saat tiba di depanku, aku hanya melambaikan tangan saja tanda tak memberi, melihat penampilan mereka membuatku berpikir mereka orang yang berkecukupan, lagian aku tak terlalu menikmati permainan mereka.

Bus melaju lancar di jalan tol. Terlihat kemacetan yang akrab di jalan bawah melihat iri ke arah jalan tol yang memang terletak di atas.

Bus mulai melambat keluar jalan tol di pintu tol Ragunan dan segera disambut kemacetan lampu merah. Beberapa penumpang dan 2 orang pengamen tadi turun di situ.
Lampu merah berganti warna, bus belok ke kiri menuju Warung Buncit di Jalan MT Haryono , berjalan perlahan menunggu beberapa penumpang yang berlari terburu. Di antara penumpang-penumpang tadi, ada 3 orang pemuda dengan dandanan ala punk yang ikut masuk ke dalam bus, 2 orang di belakang dan seorang di depan, tepat di depanku.
“ Sampah, hahahahahaha.”
Itu kata pertama yang dia ucapkan begitu masuk ke dalam bus.
“ Bapak-Bapak Ibu-Ibu sekalian maafkan kami tidak membawa gitar karena razia Satpol PP bangsat yang ngga punya otak, seperti yang Anda ketahui hidup di Jakarta tidaklah mudah, jadi kami mohon Anda mau memberikan sedikit rejeki yang Anda dapat.”
Mereka lalu berkata-kata sesuatu yang mungkin mereka sebut sajak, aku tak begitu memperhatikannya, kepalaku terlalu pusing menahan denyutan-denyutan sejak tadi siang. Mereka berhenti berkata-kata dan mulai meminta mulai dari kursi terdepan, sekali lagi aku hanya melambaikan tangan, aku tak mau nantinya uang yang aku berikan sia-sia hanya untuk mereka minum-minum.
“Sampah.”
Orang yang tadi berdiri di depanku mengataiku. Aku hanya tersenyum menerimanya. Yah, mungkin aku memang lebih sampah dari mereka semua, belum ada hal yang berguna yang aku lakukan sampai saat ini. Dan mereka pun berlalu begitu saja.
Bus berjalan lambat dan sedikit demi sedikit penuh terisi penumpang Aku mulai sedikit terlelap, sampai tiba-tiba seorang ibu setengah baya membacakan do’a di depanku. Kuperhatikan dia, kaki dan tangan kirinya tak berjari, miris aku melihatnya, bersyukur aku terlahir dalam keadaan seperti ini. Saat dia selesai mengucapkan beberapa do’a aku pun mengamininya. Disodorkannya bungkus permen kosong ke depan para penumpang, kumasukkan 2000-an kembalian membayar tadi.
“ Terima kasih Nak, semoga jadi anak yang sholeh ya Nak.”
“ Aamiin, terima kasih Bu.”
Langit di luar mulai terpoles kuas hitam, gelap menyingsing. Panggilan-pangilan untuk sejenak bersujud mengalun hening. Namun tampaknya tak ada yang mendengarnya, mereka tetap berkata-kata, mulut mereka bergerak-gerak seperti mengucapkan mantra tak bersuara. Begitupun aku, hanya diam, tak beranjak, aku sudah berniat mengqada salatku di atas kereta nanti, seperti Nabi yang selalu mengqada salatnya saat bepergian, agama tak pernah memberatkan umatnya kalau mereka ikhlas. Keramaian di dalam bus pun begitu hening, termakan deru suara bus.

Perutku mulai terasa perih, memang sejak pagi tadi aku baru makan sekali. Kuliah dari pagi sampai sore membuatku tak sempat memberi makan perutku. Hasilnya mereka marah padaku, membanjiri lambungku dengan asam-asam pahitnya, membuatku ingin muntah saja. Sakit kepala dan perut perih bukanlah gabungan yang mengenakkan. Tapi aku ingin menikmatinya, tak ingin aku berbaginya dengan orang lain, cukup aku saja. Rasa sakit dan kesedihan bukanlah sesuatu hal untuk dibagi, mungkin suatu saat aku mendapat kesenangan aku akan membaginya. Kupejamkan mataku menikmatinya.
Sekali lagi laju bus terhenti, kali ini terhalang keramaian pasar di daerah Mampang Prapatan.
“JASADKU!”
Seorang pemuda masuk dan berkata dengan lantang membawakan sebuah puisi apik penuh penghayatan. Dia bersimpuh di lantai bus.
……………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………..
“ Yang ada hanya penyesalan diri yang tiada arti bagimu.”
“ Apabila.”
“ Sang maut datang tiba-tiba.”
“ Apa yang kita pikirkan ?”
“ Apa yang kita renungkan ?”
“ Memang.”
“ Diam kita dalam bahasa sunyi.”
“ Diam kita gelap.”
“ Diam kita dalam selimut dan doa.”

“ Ya, itulah kawan sebuah puisi berjudul Jasadku, tadi saya bilang bahwa Anda adalah calon-calon jenazah, bukannya saya nyumpahin atau apa, tapi bukankah kita semua pasti mati bukan? Siapa tahu setelah saya turun dari bus ini saya mati, begitu juga anda kawan. “
Digulungkannya teks puisinya tadi menjadi bentuk cone dan ia sodorkan ke depan para penumpang. Kumasukkan seribuan ke dalam cone itu.
“ Yah, terima kasih pada kawan sopir, kawan kenek, dan semua penumpang di sini, terima kasih untuk yang ngasih, yang tidak pun saya ucapkan terima kasih, dan semoga Anda semua selamat sampai tujuan.”
Dan seperti sebelumnya dia pun berlalu begitu saja.

Bus memasuki daerah Kuningan, muka-muka lelah berserakan di pinggir jalan, sebuah hipokrisi mungkin jika mereka tersenyum. Bus melaju pelan memunguti beberapa dari mereka. 2 orang pemuda yang membawa gitar ikut masuk dari kerumunan tersebut.
Tanpa berkata-kata mereka memainkan sebuah lagu akustik dengan barisan lirik penuh semangat. Permainan mereka terhenti beberapa kali saat ada penumpang yang berebut tempat di dalam bus yang mulai penuh sesak. Setelah permainan mereka selesai, mereka menyodorkan gelas bekas air mineral. Meskipun penumpang penuh sesak, tampaknya hanya sedikit orang yang mau bermurah hati. Inginku memasukkan sedikit uang ke dalam gelas kosong tadi, permainan mereka layak diapresiasi, namun tak ada uang lagi di kantongku. Dan mereka turun begitu saja di perempatan Taman Menteng.
Bus memasuki jalan di daerah Menteng. Rumah-rumah megah berjejer di sisi kiri kanan jalan. Di sini hidup para pengusaha, artis, pejabat, dan mungkin banyak juga koruptor. Saat bus sampai di Stasiun Gondangdia beberapa orang turun di situ, memberi sedikit ruang kosong untuk udara senja.

Seorang perempuan muda tidur di sebelahku, wajahnya begitu teduh, meskipun kukira tadi dia mengalami hari yang berat.

Bus terus melaju, melewati Istiqlal, di seberangnya berdiri tak kalah megah Katredal St. Immanuel. Mereka terlihat begitu rukun, tak seperti orang-orang yang masuk ke situ. Mereka bersembunyi dalam sebuah hiperealistik bermuka 2, saling menjelek-jelekkan, berkata bahwa mereka yang paling benar, berkata bahwa mereka yang akan masuk ke surga dan yang lainnya ke neraka. Aah, andai saja mereka seperti 2 bangunan bisu yang tak pernah saling mengatai ini. Dan bus pun melaju tak peduli.
“ Ya Senen…Senen…habis…habis….”
Suara kenek mengisyaratkan bus telah sampai di Terminal Senen, perjalanan berakhir di sini. Banyak bus-bus tua, angkot, dan bajaj yang berbaris berjejer di situ. Para penumpang pun berebutan keluar, seolah-olah tak ingin lagi berlama-lama di dalam bus tua ini. begitu kakiku menginjak aspal, aku pun berlari ke Stasiun Senen di seberang. Kulihat jam, 19.10, 10 menit lagi keretaku berangkat, melanjutkan perjalanan yang terpenggal.

11 September 2009

Tragedi Kereta Api

“ Penumpang kereta Senja Utama Jogja perjalanan anda berakhir di sini, terima kasih telah melakukan perjalanan bersama kami, tung..ting..ting..ting..” suara penjaga peron stasiun Tugu bersaing dengan suara adzan tepat saat gw sampai di stasiun Tugu. Suasana kota Jogja yang bersahabat seolah-olah menyambut kedatangan gw ma Bri dengan kios-kios yang menjual souvenir-souvenir batik khas Jogja.

9 jam di atas kereta yang hebat, gw berkenalan sama seorang Mayor yang mengajar di sebuah sekolah perwira di Jakarta, dia ke Jogja karena dapet beasiswa S2 di UGM dari Departemen Pertahanan, keren. Dia cerita pengalaman-pengalamannya mulai dari rusuh jajak pendapat di Timor Timur sampai cerita-cerita tentang pengalamannya Kalimantan, bahkan dia juga bercerita tentang masalah keluarga dia, hmmm.

Dari Jogja kita berencana naik Pramex, secara gw belum pernah naik Pramex, hehe. Tapi sialnya, Pramex tujuan Solo yang paling pagi berangkat jam 5.45, it means kita harus nunggu 1 jam lebih. Berhubung kita pengen cepet-cepet nyampe di rumah, kita putuskan buat numpang kereta Lodaya dari Bandung tujuan Solo yang saat itu lagi berhenti di Tugu. Kenapa gw naik Senja Utama Jogja dan bukan Senja Utama Solo? Karena Senja Utama Jogja lebih tepat waktu seperti yang telah dijadwalkan, berangkat dari Senen pukul 19.30 sampai di Jogja pukul 04.27, sedang Senja Utama Solo, di jadwal tertulis berangkat jam 20.30 sampai di Solo 06.30, tapi kenyataannya jam 8 biasanya baru nyampe Klaten, hmmm.

Sejak masuk ke dunia perkeratapian gw dapet hobi baru, kalo naik kereta gw paling suka kalo berdiri di depan pintu. Nah, sejak dari habis sahur sebelum masuk Kutoarjo, kira-kira jam 3 dini hari, sampai di Jogja gw berdiri di depan pintu kereta. You know, saat udara masuk dari pintu di depanmu meniup rambutmu dan membelai lembut wajahmu, keluar dari pintu yang lain. Saat kereta berjalan di atas sungai kau bisa merasakan jiwa air yang gelap bahkan saat kau tiba di sisi yang lain, pohon-pohon bertransformasi menjadi bentuk-bentuk yang berbeda saat kau melihatnya, perkampungan-perkampungan dengan lampu-lampunya yang redup menghilang begitu saja tanpa sempat melambaikan tangannya, dan saat lagu-lagu akustik bermain seperti soundtrack perjalanan yang akan berakhir saja.

Dari Jogja gw ama Bri berdiri aja di depan pintu, ngobrol-ngobrol tentang rencana-rencana liburan kita selama 6 minggu ke depan, trus ada juga ibu-ibu ama anaknya yang siap-siap mau turun di stasiun Klaten juga. Oiya, Bri ini adalah seorang extremis, kalo nyari dia mah gampang, cari aja di extreme game centre, budget dia buat game kayaknya lebih besar daripada budgetnya buat makan. Namanya mengingatkan gw ama salah satu tokoh di buku ke-2 Chronicles of Narnia, Horse and His Boy, seekor kuda yang bisa ngomong, Bri, hehe. Nah, waktu lagi enak-enaknya ngobrol, di daerah Prambanan, tiba-tiba

Bletak!

Kaki gw dilempar batu ama segerombolan orang yang lagi duduk-duduk di pinggir rel. Kalian bisa bayangkan bagaimana rasanya dilempar batu di atas kereta yang lagi ngebut. Kalo dihitung pake rumus fisika, energi yang mengenai kaki gw :

m = missal aja batunya kecil, beratnya 200 gram = 0.2 kg.
v = keretanya lagi ngebut waktu itu, misal aja 120 km/ jam = 33.3 m/s .
resistensi udara diabaikan, heheh.
Ek = 1/2 mv^2
Ek = 1/2 0.2 x 33.3^2
Ek = 110.889 joule

I have no idea with that calculation, but it was so damn hurt. Rasanya, bukannya gw lebay, tapi itu bener-bener sakit, yakin. Untung yang kena gw, bukan ibu-ibu ato anak kecil yang berdiri di deket gw, dan untungnya lagi kena kaki, kalo kena kepala gw gimana coba. Mungkin orang yang ngelempar otaknya udah nggak di dengkul lagi, tapi udah di telapak kaki.-> esmosi. Ada-ada ujian orang yang berpuasa,semoga aja bisa menjadi pengurang dosa gw dah, aamiin.

But that won't change my new hoby,hehe.

21 Agustus 2009

Phobia

Beberapa dari kita pasti punya ketakutan terhadap suatu hal. Tapi kadang ada beberapa orang yang memiliki ketakutan yang berlebihan dan enggak biasa atau bahasa jawanya “ phobia”. Nah, ini cerita tentang phobia orang-orang di sekitar gw yang unik.

1. Rifky
Meskipun bercita-cita menjadi pilot ni anak ternyata takut ama yang namanya belalang, tapi hanya dalam keadaan terbang aja, nah lho. Kalo dia beneran jadi pilot trus waktu nerbangin pesawat tiba-tiba ada belalang terbang di depannya keke ?

Pengakuan Rifky, “ Pokoknya belalang itu kalo terbang nyeremin, apalagi kalo keliatan sayapnya yang merah-merah gitu, serem dah pokoknya, kalo tiba-tiba nempel gimana?, kalo belalang yang diem sih gw berani.”
Selain belalang ni anak juga takut ama kecoak terbang, hihihi. Ternyata selain dia, adeknya juga takut ama serangga, ngga’ cuma belalang ama kecoak doank malah, bahkan dia takut ama laron dan capung, hmmm.
Menurut Teori Phobia Rifky muka seseorang itu mirip ama hal yang ditakutinya, jadi kesimpulannya muka dia kaya belalang atau kecoak yak, siiip, setuju banget.

2. Tiwi
Kalo Tiwi punya phobia ama kucing. Alasannya sih cakar ama taringnya nyeremin gitu katanya. Emang sih, ada beberapa orang takut ama kucing, tapi dalam kasus Tiwi mah, bukan takut lagi, orang baru liat aja udah takut.
Reaksi Tiwi kalo ngliat kucing:
- Waspada, siaga satu.
Kucing mendekat.
- Siap-siap lari,
- Kalo enggak ada tempat buat melarikan diri maka dia akan menjerit dan nyari tempat yang lebih tinggi di luar jangkauan kucing, di atas kursi misalnya.
Reaksi anak-anak kalo liat Tiwi dideketin kucing :
- Bersorak-sorak bergembira, seneng ada hiburan,dan berusaha agar si kucing selama mungkin di deket si Tiwi, hihi jahat.
Pernah suatu ketika waktu Tiwi makan bareng ama anak-anak di warung ayam bakar, kebetulan di situ banyak kucingnya, saking takutnya Tiwi makan sambil jongkok di atas kursi, hihi. Abis itu kalo makan bareng dia pasti ngajak ke tempat yang ngga’ ada kucingnya.

3. Uut
Ni anak phobianya juga aneh, takut ama entok. Alasannya sih, takut kalo disosor, , padahal setau gw entog kan ngga’ nyosor, yang nyosor-nyosor kan angsa. Kata Uut sendiri sih dia belum pernah disosor. Phobia Uut ini baru diketahui akhir-akhir ini, waktu dia, Irfan, Luki, ma Rifky lagi pulang bareng, di pinggir jalan kebetulan ada enthog yang lagi nongkrong. Tiba-tiba aja Uut jalannya ngejauh dari tu entok nongkrong ampe dempet-dempet ke pager orang gitu, dari situlah diketahui phobia cowo ngapak satu ini, hehe.

4. Septi
Cowok penyiar radio asal kota atlas ini takut ama yang namanya cacing, alasannya nyeremin soalnya warnanya merah kaya darah, trus kalo jalan menggelinjang-menggelinjang gitu, haha dasar Septi.

5. Rama
Adik sepupu gw yang satu ini phobianya paling aneh, takut ama “ nasi”. Penyebabnya sih, waktu dia umur 2 tahun pernah keselek waktu makan, abis itu sampai sekarang dia berumur 7 tahun, dia ngga’ pernah makan nasi. Mungkin kalo ada soal, apa makanan pokok orang Indonesia, dia bakal jawab kentang dan susu.
Pernah waktu ada acara pesta kebun di TK’nya, karena gurunya ngga’ tahu tentang phobianya, dia disuapin nasi, saking takutnya dia ampe nangis-nangis dan matanya ampe bengkak-bengkak gitu, gurunya ampe panik dan langsung telefon ke rumah, dasar. Dan setiap disodorin nasi ni anak pasti langsung menjerit, kalo enggak ya nangis. Kalo gw lagi jengkel ama dia mantra gw adalah, “ Entar dikasih nasi lho!” and it works, hihi. Tapi ni anak ajaib juga lho, waktu umur 3 tahun udah bisa maen game di N-Gage gw yang dulu, sekarang udah bisa maen DotA, CS, dan beberapa game-game PS2.

6. Cahya Wisnu Ardi muda
Gw dulu waktu kecil takut ama yang namanya air di bak mandi, soalnya kalo liat air di bak mandi berasa horor, kaya ada yang narik & mau nenggelemin gitu. Jadi dulu kalo mau dimandiin ama Mbak Margini, orang yang momong gw, biasanya diolesin dulu ama tanah liat gitu, trus dia bilang “ Iih, adek kotor tuh, mandi dulu yak.”, karena gw anak baik akhirnya gw mau dimandiin, kalo ngga’ gitu pasti dah gw nangis, hehe. Seiring berkembangnya jaman dan teknologi sekarang sih ngga’ takut lagi. Tapi gw masih agak takut ama air yang diem, warnanya gelap, dan luas, kaya bendungan atau danau gitu, setiap ngliat air yang mampet-mampet kaya gitu pasti dah ngrasa kaya ada yang mau narik-narik gitu. Emang bener kata peribahasa, “air tenang menyeramkan”, hmhmh.

Tak terasa udah setahun, alhamdulillah masih bisa bertemu bulan Ramadhan lagi, entar malem tarawih dan besok udah mulai puasa. Ini puasa ngga’ di rumah gw yang ke-2, setelah tahun kemaren sempet puasa di Bandung dan Jakarta. Bersyukurlah kalian yang bisa puasa bareng keluarga di rumah. Yap, selamat berpuasa, semoga amal puasa kita diterima oleh-Nya, aamiin.

Senin depan gw “baru” UAS, semoga berjalan lancar dan diberi kemudahan dalam mengerjakan soal, aamiin.

Hidup Itu...

Tak perlu hidup dalam kata-kata bijak orang lain,
Tak perlu hidup dalam puisi-puisi penuh kiasan,
Kita hanya perlu hidup dalam kata-kata lugas apa adanya.

Kamar Gelap, 21 Agustus 2009

UP


Sebuah film tentang impian dan janji. Film animasi 3 D ini, berkisah tentang seorang kakek bernama Carl Fredericson yang berjanji pada teman kecilnya yang akhirnya jadi istrinya, Ellie, kalo dia bakal berpetualang ke Paradise Fall, sebuah air tejun di Amerika Selatan. Dimulai dengan bloopers tentang awan dan bangau yang kocak parah, di awal-awal, film ini romantis buanget, I wanna be like them ☺. Bang Nico aja jadi pengen cepet nikah setelah nonton ni film. Namun sampai dia tua dan akhirnya Ellie meninggal impian itu belum juga terwujud, hingga pada suatu hari dia memutuskan untuk pergi ke Paradise Fall dengan rumah terbangnya yang unik. Tanpa sengaja ada seorang anak bernama Russel yang nyangkut di rumahnya dan ikut berpetualang. Banyak karakter-karakter dan kejadian-kejadian kocak dalam ni film, misanya aja Kevin si burung betina aneh penyuka coklat dan anak-anaknya yang lucu parah, Alpha, seekor anjing German Sheeperd dengan suaranya yang fals, dan masih banyak lagi. Pokoknya film ini menghibur dah. Tapi di balik semua itu, ada banyak pesan dari film ini misalnya aja, gunakan masa muda kita sebaik-baiknya dan jangan sampai menyesal di hari tua, usia bukanlah penghalang untuk mewujudkan impian kita, dan berusahalah menepati janjimu meskipun sulit diwujudkan. Jadi pengen berpetualang nih, tapi hidup itu sendiri adalah petualangan bukan, Yap, the adventure is out there. ****/5

18 Agustus 2009

64 Tahun Indonesia ?


17 Agustus tahun 45,
Itulah hari kemerdekaan kita,
_________________________________,
_________________________________,
Gegap gempita euforia kemerdekaan merebak di mana-mana, semua orang merayakan lahirnya negara ini ,
Lagu-lagu kemerdekaan berkumandang,
Cat baru di semua gapura-gapura.
Sang Dwi Warna berkibar di mana-mana.
Upacara bendera diadakan di setiap tempat.
Lomba-lomba semarakkan suasana.

Tapi benarkah kemerdekaan Indonesia karena perjuangan pahlawan-pahlawan kita?

Bukannya gw bersikap skeptis dan tidak menghargai perjuangan pahlawan-pahlawan kita, tapi kalau kita mau jujur dan melihat fakta yang terjadi, perjuangan fisik pahlawan kita sebelum tahun 1945 bukanlah penyebab utama kemerdekaan negara ini. Menurut gw Indonesia merdeka lebih karena efek eksternal dari perang dunia ke-2.

Mungkinkah Indonesia bebas dari cengkraman Belanda kalau Jepang tidak melancarkan program Asia Timur Raya’nya?
Mungkinkah Indonesia bisa memproklamasikan kemerdekaan kalau Jepang tidak di bom atom oleh Amerika?

Jadi kalau mau sedikit tau diri, harusnya kita mengucapkan terima kasih pada Amerika, atau mungkin pada Laksamana Isiroku Yamamoto si pencetus serangan Pearl Harbor, karena serangan itulah yang menyebabkan Amerika terseret dalam perang dunia ke-2.

Menurut gw kalau mau bener-bener kemerdekaan kita ditulis di buku-buku sejarah karena perjuangan pahlawan-pahlawan lokal kita, Indonesia baru bener-bener merdeka pada 28 Desember 1949, saat Belanda benar-benar mengakui kedaulatan Indonesia. Saat tidak ada lagi pihak eksternal, terutama dari pihak agressor, yang menentang kedaulatan penuh Indonesia, meskipun gejolak pemberontakan dari dalam masih panas saat itu. Tapi setidaknya pengakuan kedaulatan bukan karena faktor eksternal.

Lalu sudahkah Indonesia merdeka saat ini?

Tentu saja negara Indonesia telah merdeka, tapi kita, rakyat Indonesia masih terjajah, terombang-ambing dalam globalisasi, ketergantungan akan negara lain, ekonomi yang tertatih-tatih, hutang luar negeri yang selalu bertambah setiap tahun, dan banyak paradigma tentang ketidakmandirian negara kita saat ini. Kemarin gw sempat tersenyum setelah membaca sebuah status temen gw di facebook, “ Ayo Indonesia jangan malu-maluin, bikin gw bangga dilahirkan di Indonesia.” Jah, memangnya Indonesia itu apaan ? Kita inilah Indonesia itu, kitalah yang seharusnya melakukan hal yang membanggakan untuk negara Indonesia , kitalah yang harus membuat negara ini bangga karena kita lahir di atas buminya. Mungkin Indonesia tidak seperti Kuba dengan kemandirian ekonominya, mungkin juga presiden Indonesia tidak seperti presiden Mexico yang berani pasang dada memutihkan semua hutang luar negerinya, tapi inilah negara kita, kitalah yang memerdekakan negara ini, terlalu munafik mengatakan Indonesia belum merdeka, tapi tidak melakukan apapun, that’s non-sense. Kemerdekaan sejati datang dari keberanian mengikuti kata hati. Well, this is just the theory of mine. Dirgahayu Indonesiaku.

RaRiRuReRo trivia:
- Banyak orang salah kaprah mengartikan kata dirgahayu dengan ulang tahun, padahal dirgahayu berarti ucapan untuk menyatakan ucapan semoga panjang umur. Dan parahnya di TV-TV banyak yang ngomong, “dirgahayu Indonesia yang ke-64.”
- Waktu nulis ini gw sempet stuck, iseng-iseng gw muter film di lapi gw, Saving Private Ryan, saat itu juga gw nyalain TV, eh, di Global TV ternyata tu film lagi ditayangin, jarang-jarang bisa kaya gini, hehe, lebay. Filmnya keren lho, menyentuh, wajib nonton dah.
- Salah satu tindakan langsung berbakti kepada negara adalah menjadi pegawai negeri, hidup pegawai negeri, yosh!
- Akhirnya malam ini waktu nyari makan, gw kehujanan, udah lama banget ngga’ merasakan segernya aer hujan, well, semoga aja gw ngga’ sakit, hihi, ngga’ penting banget.

13 Agustus 2009

Mas-Mas Gaptek

Di suatu hari yang cerah, gw lagi duduk-duduk di Taman CD menikmati indahnya gedung-gedung di stan yang kayak istana. Taman CD bukan Taman Celana Dalam lho, tapi taman di antara gedung C dan gedung D di stan, makanya dinamain taman CD. Nah, waktu gw lagi pewe menikmati angin sumilir, datanglah 4 orang senior, yang duduk ngga’ jauh dari tempat gw.

Bukannya gw suka nguping, tapi mereka berempat ngobrol dengan suara maksimal, sehingga kuping gw ini mau ngga’ mau denger semua pembicaraan mereka.

…………………………..ngobroooooooooool………..ketawa-ketawa…………

Hingga pada salah satu percakapan,
Mase 1, “ eh, kenapa lw ngga’ beli modem aja.”
Mase 2, “ gw males ah beli modem, ntar anak-anak pada numpang hot spotan di kostan gw lagi, kan jadi lemot.” ← ngomongnya yakin banget, agak sombon-sombon gitu.

Wssssssssssssssssuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhh…angin lewat,…daun-daun berguguran….air mancurnya berhenti mancur……..ada tukang sate lewat…....gedung D ambruk…………

………………………………………………..Hening…………………………………………..

Mase 1, “ Itu beda kali, kalo modem itu yang dicolokin ke USB, trus cuma bisa dipake 1 orang dhoank.”
Mase 2, “ Oh, iya to.” ← lugu banget, beda banget kaya waktu ngomong di atas.

Dalam tersenyum, hati gw berbisik,
Hwaahahahahahahahahahhahahahahahahahahahahahahahahhhahahahahahahahahahaha,.
Ternyata di stan pada tahun 2009 masih ada orang kaya’ mas-mase tadi yang hidup, saluuuuut.

Kisah Sedih di Hari Selasa

Korban, “ Eh, gw lagi ada masalah ni, bla……bla........bla…….bla,…bla….”
Tersangka, “ Udah deh lupain aja, cuma masalah kaya gitu, ntar juga selese.”
Korban, “ Iya juga sih, makasih ya.”
( dalam hati Korban, “ Wah, %#!*&?~$%#^*&^>:*#<, ngomong dilupainnya enak banget, gw dari tadi mikirin ni masalah ampe pusing, eh lw bilang dilupain aja, trus bilang “cuma” lagi, kasih saran napa, ntar juga selese mbuahmu, gw cemplungin ke laut lw biar dimakan ubur-ubur).

Percakapan di atas mewakili sebagian besar orang Indonesia kalo diajak curhat.

Selasa kelabu,
Ngga’ seperti biasanya pagi ini, gw sedih, hihihihi, <-sad expression laugh.
Masalahnya apa ya, hmmm, not kind of public consumption.
Langit berwarna kelabu, sekelabu hati gw, hihihi. Seperti hari Selasa biasanya, sebagai anak harapan bangsa, gw ada kuliah Hukum Perdata jam 8. Dan seperti biasanya juga, gw berangkat ke kampus tercinta stan yang megah dengan males-malesan dan duduk di deretan belakang. Dosen Hukum Perdata gw itu mukanya sadis kaya Tuan Takur di pelm-pelm India jaman bahuela, tapi meskipun gitu, suaranya kalo ngajar bikin mata kita melek merem. Nah daripada ngantuk biasanya kalo kuliah hukum, gw selalu melakukan hal-hal haram, kaya baca buku ga jelas, online, chatting lewat mulut, deelel. Kemaren waktu kuliah tu hukum, gw iseng-iseng buka blognya temennya Rifky, blognya kocak parah, di situ ada sebuah posting yang menarik buat gw, judulnya Iklan Close Up. Pokoknya isinya tentang jingle’nya yang kira-kira kaya gini.

Aauuuuuuuuuuuuu…….
What you do to me……..
Aauuuuuuuuuuuuu…….
What you do to me…….

Aah, itu lagu kan udah gw cari sejak jaman dahulu kala dan ngga’ dapet-dapet. Segala cara udah gw coba, mulai nanya ke si Mbah, Yahoo answer, sampai jurus paling ampuh gw kalo nyari lagu, Track ID, dan hasilnya 0. <--ini nolnya gedhe lho.
Banyak orang sotoy yang bilang itu lagunya Coldplay, emang sih falsetonya (au..au’nya) mirip ama suaranya Chris Martin, tapi kalo denger verse’nya, hmmm, suaranya beda banget. Di situ gw dapet link downloadnya , kalo mau download klik aja di sini. Berhubung waktu itu gw ngga’ bawa laptop gw minta aja Syamsudini bwt downloadin, secara dia lagi ol. Beruntungnya gw ngga’ bawa flashdisk, untung di situ ada Hengky, si penggemar berat kakak gw, mbak Sawajiri Erika, yang mau minjemin fd’nya. Dari Dini gw ngopy tu lagu ama subtitle Gokusen, soalnya minggu kemaren dia ngasih gw tu J-dorama tanpa subtitle, jadi berasa orang Papua yang diajak ngomong ama orang Zimbabwe waktu gw nonton, dan dari Hengky gw dapet Ice Age 3.

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba, waktunya pulang, dan gw sama sekali ngga’ nangkep satupun dari yang dikatain Pak Dosen tadi, maafkan saya Tuan Takur! Hari ini gw cuma ada kuliah 2 SKS hukum dhoank, stan emang paling wolay dah soal jadwal kuliah. Nah, waktu di deket lobi gedung D, si jelek Tiwi melambai-lambaikan kertas berwarna abu-abu.

Tiwi, “ Gw punya dhonk.”
Gw, “ Apaan tu?”
Tiwi ngasih tu kertas ke gw. Di situ ada gambar pangeran Antasari dan angka 2000 di pojokan.
Gw, “ Jah, ini kan dhuwit 2000-an yang baru, dapet darimana lw.” ← dengan mata berbinar-binar, kampungnya keluar deh, hehe.
Tiwi, “ ada dah.”

Dari situ gw punya cita-cita baru yang mulia. “Gw pengen muka gw dipajang di dhuwit kertas.” Kalo Pangeran Antasari yang orang jaman dulu aja harganya 2000, gw harus bisa 200 ribu, siiiiip.

Nyampe kost, langsung gw babat dah Ice Age 3. Filmnya lucuuuu parah. Karakter favorit gw yang paling keren, Scratch, dengan sadisnya lebih tetep setia dengan buah kenarinya daripada seekor wanita tupai, hihi. Abis gw ketawa-ketawa nonton Ice Age, dengan ajaibnya tiba-tiba langitnya udah nggak mendung lagi, matahari bersinar terang. Waaaah,jangan-jangan gw bisa mengendalikan cuaca ni, besok kalo lagi males kuliah gw nangis sambil teriak-teriak aja dah, biar hujan badai dan banyak petir. Trus ntar kalo ditanyain ma dosen, “ Kemaren hujan petir pak, saya takut kena petir, jadi ngga’ masuk.” alasan yang cukup bagus,siiip.

Abis nonton Ice Age, gw bengong aja. Wah, harus mencari kesibukan ni, ntar gw bisa sedih lagi kalo bengong trus. Baca buku, males, kebanyakan stok e book jadi bingung mau baca apa, maen, mau maen apa, hmmmm. Akhirnya gw putusin untuk nonton, gw buka 21cineplex.com, liat beberapa film. Kandidatnya kalo ngga’ GI JOE ya UP. Akhirnya setelah rapat anggota pemegang saham, gw putusin buat nonton GI JOE di Blok M. Kenapa di Blok M? Soalnya di Blok M itu dari parkiran naik lift langsung nyampe 21, di BP filmnya sampah semua, horoooor semua, kalo di PIM dari parkiran ke 21 jauuh, males.

01.35 pm, gw cabut dari kost menuju Blok M Plaza, berhubung gw anak baik dan budiman kendaraan cuma gw pacu dengan kecepatan 30-40 km/h, biar ngga’ nabrak orang. ← macet.
Nyampe di Blok M jam 14.10, 21 suepi rek, langsung beli tiket ama mbak-mbaknya. Setelah nunggu 15 menitan pintu teater 1 pun dibuka, gw dapat seat di F7, lumayan belakang sih. Di samping kanan gw ada mbak-mbak yang juga nonton sendiri, trus di samping kiri ada mas-mas botak yang nonton ama istrinya.
Saat film diputer,
Sniff….
Sniff….
Kok ada bau aneh gitu ya,.campuran bau trasi, jengkol, keringat, dan kotoran ayam digabung jadi 1.
Setelah gw telusuri tu bau, aiih, ternyata bau badan mas-mas di samping gw, aaarrrrgh, ngga’ ngenak-enakin orang nonton aja. Alhasil selama 1 jam lebih gw duduknya agak ke kanan gitu, mas-mas yang menyebalkan. Filmnya sendiri lumayan sih, cuman ada beberapa efek visual yang ngga’ rapi, berasa nonton film jadul. Tapi at all keren lah.

04.30 pm, akhirnya gw balik ke kostan, di jalan gw berpikir keras, kira-kira kegiatan apa ya yang ntar gw lakuin di kost. Trrrriiiing, seperti dapet wangsit, gw teringat gitar butut gw yang udah disekap di kostannya si Irfan selama seminggu. Sebelum ke kost gw mampir dulu beli senar gitar, 1 set 25 riben, dapet 8 senar. Setelah beli senar gw mampir di kostan si Irfan dan membebaskan gitar gw dari tirani si Irfan.

Nyampe kost langsung gw lucuti semua senar nilon lama gw yang ngambek dan udah ngga’ mau ngeluarin suara lagi dan gw ganti ama senar string baru.
Jreeeeng,…jreeeeng….. suaranya semriwing dah,… jadi semangat ni pamer suara gw yang fals, hihi. Pokoknya malem itu gw genjrang-genjrong-genjreng aja, lagunya sedapetnya, ngasal, gw ngga’ peduli orang di kamar sebelah gw besoknya ke dokter THT karena dengerin suara gw. Jam 09.55 pm, badan udah mulai capek, mulut pegel-pegel, dan akhirnya gw tertidurrr juga. Nikmatnya tidur jam segitu, setelah 3 hari tidur di atas jam 2. Dan waktu gw bangun tidur gw udah lupa tuh masalah yang bikin gw sedih.

Trus di mana cerita sedihnya?
Hihi sebenernya ngga’ ada, gw cuma mau nunjukin bahwa kita jangan bersedih berlarut-larut, seperti kata-kata andalan om-om yang ngarang buku La Tahzan, “ Jangan bersedih.” Tapi menurut gw sih sekali-kali boleh lah bersedih, biar kita tau bagaimana rasanya senang. Pernah dulu waktu gw masih muda, ada yang bilang kalo hidup adalah pilihan, sedih atau bahagia kita yang menentukan., yap that’s absolutely right.

Berikut beberapa tips-tips menanggulangi kesedihan :
1. Jangan bunuh diri.
2. Jangan menyiksa diri, misalnya aja ngga’ makan, ngga’ minum, apalagi ngga’ napas, bahaya dah.
3. Jangan melampiaskannya dengan melakukan hal-hal negatif, kaya minum air keramat, menculik orang, bikin bom, nyopet, ngebakar kost-kostan, telanjang di muka umum, sungguh sangat tidak dianjurkan.
4. Menyibukkan diri dengan hal-hal positif, kaya nulis, baca buku, nonton, ngejahilin temen, ngamen, deelel.
5. Jangan diem aja, karena jarang dengan diem masalah bisa cepat selese, bicarakan masalah dengan orang yang bermasalah ama kita, biar masalahnya cepet selese, yang harus diperhatikan di sini, kita harus bicara pake mulut, jangan pake emosi, kalo perlu salah satu ngalah dah.

Sekian, semoga bermanfaat.

10 Agustus 2009

Antara Jihad dan Sahid, Long Road to Heaven

Satu lagi tokoh teroris tewas, Noordin M. Top, petinggi organisasi Islam radikal dan most wanted nomor 1 di Indonesia. Dari sini kita gunakan tokoh antagonis aja ya, soalnya menurut gw kata teroris kurang tepat digunakan, terlalu mendiskreditkan. Keinginan agar syariat Islam diterapkan di Indonesia membuat mereka melakukan berbagai pengeboman. Organisasinya sendiri diduga sempalan dari JI yang ingin syariat Islam ditegakkan di seluruh Asia Tenggara, namun pada dasarnya cara dan pemahaman mereka akan apa itu jihad adalah sama.



Sebenarnya apa sih jihad itu?

Jihad adalah berjuang dengan niat sungguh-sungguh menurut syariat Islam demi tegaknya Din. Konteks jihad sendiri saat ini lebih diidentikan banyak orang dengan perang secara fisik, padahal jihad adalah segala hal yang dilakukan agar Islam tetap tegak, termasuk menjaga sikap diri kita sendiri adalah termasuk jihad. Kalau kita tilik cara perjuangan tokoh-tokoh antagonis saat ini, mereka tidak lebih dari orang yang tersesat dan salah jalan. Perang yang mengatasnamakan Islam tapi tidak sesuai sunnah rasul tidak bisa disebut jihad. Tindakan pengeboman mereka tidak lebih dari tindakan pengecut dan bodoh, termasuk tindakan Osama bin Laden yang mengebom WTC, meskipun menurut gw keren, but that was so low, berapa banyak wanita dan anak-anak yang mati saat itu. Pada jaman Rasulullah, para mujahidin benar-benar menjaga etika perang. Mereka mengirimkan pesan kepada musuh sebelum perang; tidak membunuh wanita, anak-anak, dan orang tua; tidak mengganggu orang yang beribadah, dan banyak lagi etika-etika lainnya dan menurut gw hal itu masih relevan diterapkan saat ini. Tapi apa yang dilakukan tokoh-tokoh antagonis saat ini, meledakkan bom di mana-mana, meskipun dalam konteks mereka tempat yang diledakkan adalah kepunyaan orang kafir, tapi bukankah mereka termasuk kafir dzimmi, dilindungi oleh negara, tidak boleh diperangi, harta dan keselamatan merekapun dijamin. Bukankah Islam adalah agama damai. Alih-alih menimbulkan kesan tersebut, mereka malah mencoreng wajah Islam saat ini.

Sahid, itulah kata-kata yang selalu diucapkan para tokoh-tokoh antagonis. Mereka berpikir bahwa dengan meledakkan diri, mereka akan dibukakan pintu surga lebar-lebar, heh, don’t make me laugh. Dalam Al Qu’ran dengan jelas dikatakan,

“ Dan janganlah kalian membunuh diri kalian , sesungguhnya Allah Maha Menyayangi kalian.” ( QS 4 : 29)
Lalu ada juga sebuah hadist,

“ Barangsiapa yang bunuh diri dengan menggunakan suatu alat/ cara di dunia, maka ia akan disiksa dengan cara itu pada hari kiamat.” ( HR Bukhari Muslim).

Sebenarnya siapa sih panutan mereka, Qu’ran dan sunnah kah? Ataukah bualan pemimpin mereka yang memerintahkan mereka mati konyol? Sahid menurut gw adalah reward dari sebuah perjuangan, jadi essensi dari sahid sendiri adalah didapatkan dan bukan dicari. Tapi apa yang dilakukan tokoh-tokoh antagonis kita, mereka mencari mati, kemana-mana memakai rompi dengan bom, menjadi public enemy. Apakah ada dari mujahidin yang bertujuan mati saat berjihad? Kalau semua bertujuan mati saat berjihad siapakah yang akan berjuang untuk memperoleh kemenangan, setidaknya mereka berjuang untuk hidup, dan kalau mereka matipun maka alhamdulillah, surga mereka dapatkan. Setidaknya pilihlah cara mati yang lebih ksatria dan keren, tidak mati karena bom sendiri dan tubuh hancur berantakan. That’s so cupu & absolutely ngga’ keren. Gw tahu mereka adalah kumpulan manusia-manusia pintar, kita liat aja Doktor Azahari, penyandang gelar PHd, Noordin M. Top,si perekrut anggota-anggota baru, pastilah sosok yang berkharismatik dan ahli dakwah, butuh waktu lama untuk dat 88 menemukan mereka, tapi apa? Mereka berakhir ditembus peluru, sungguh sangat disayangkan, padahal banyak hal yang dapat mereka lakukan demi agama Islam.

Sebenarnya apa sih motif mereka melakuan hal ini?

Keinginan agar syariat Islam diterapkan di Indonesia kah? Tapi menurut gw lebih kepada ketidakpuasan akan pemerintahan. Departemen Agama sendiri saat ini kredibilitasnya meragukan, meskipun gw tahu mengatur 200 juta umat Islam bukanlah hal yang mudah. Fungsi Departemen Agama sendiri saat ini lebih banyak digantikan oleh organisasi-organisasi Islam. Contoh simple aja, berapa banyak fatwa mengenai jatuhnya awal puasa dan lebaran. Tidak seperti kebanyakan negara-negara di jazirah arab, di sana ditunjuk seorang mufti yang akan mengeluarkan fatwa dan hebatnya seluruh umat mengikuti, coba di Indonesia seperti itu. Gw ngga’ mengatakan bahwa fatwa-fatwa di sini salah, itu semua benar, karena mereka mempunyai dasar akan fatwa-fatwa mereka, kalau gw sih menganggap itu sebagai kedinamisan Islam saja. Tapi meskipun begitu, apa sih yang MUI selama ini lakukan? Alih-alih mengeluarkan fatwa yang diikuti banyak orang, fatwa-fatwa mereka banyak dihina orang, berapa orang sih yang bener-bener mematuhi fatwa merokok, juga fatwa tentang Ahmadiyah yang berlarut-larut, hal ini menunjukkan bahwa kredibilitas mereka bener-bener diragukan. Menurut gw daripada mereka berdebat-debat dan mengeluarkan fatwa ngga penting, lebih baik MUI lebih banyak melakukan dakwah dan penyuluhan-penyuluhan. Gw kira hal tersebut lebih berguna buat mencegah adanya tokoh-tokoh antagonis baru dan juga banyaknya penistaan agama. Sebenernya hukum di Indonesia ini ngga’ salah kok, cuma pelaksanaannya aja yang ngga bener, di sinilah seharusnya MUI masuk, meskipun kita juga harus berpartisipasi. Kalaupun syariat Islam bener-bener diterapkan di Indonesia, berapa banyak gerakan separatis yang akan muncul dari saudara-saudara kita di bagian timur Indonesia yang mayoritas nasrani.

Tapi tetap cara paling ampuh dalam mencegah munculnya tokoh-tokoh antagonis baru adalah instropeksi diri kita sendiri. Kita mulai jihad dari diri kita sendiri. Bagi saudara-saudara gw yang salah jalan, kalian belum tersesat terlalu jauh, yang perlu kalian lakukan hanyalah sedikit belok ke kiri. Masih banyak ladang jihad selain dengan cara anarkis, bukankah Islam adalah rahmatan lil alamin, sebarkanlah Islam dalam damai seperti cara Rasulullah. Membunuh orang bukanlah hal yang mudah, apalagi membunuh diri sendiri. So just back to Qu’ran & Assunnah.

Kamar Gelap, 9 Agustus 2009

PS : perasaan gw terlalu banyak mengunakan kata bodoh dah, ini bukan berarti gw pinter lho, watashi no baka moo, makanya gw belajar, tapi ini kan blog gw jadi hak gw dhonk mau pake kata apa, yang ngga’ setuju ke laut aja dah, hehehehe,. (so song-ongs)
Berita terakhir mengatakan ternyata yang meninggal di temanggung bukan Noordin M. Top, tapi Ibrohim, ya sudahlah, met nyari Om Noordin lagi deh Dat 88, ganbatte ne!

07 Agustus 2009

Chibi Maruko-Chan And I




Dualisme, 2 sisi, 2 hal yang belawanan, 2 hal yang berbeda, seperti yin dan yang, ato adanya siang dan malam, kebaikan dan keburukan, awal dan akhir, kehidupan dan kematian.Tapi di samping itu di dunia ini terkadang ada hal-hal yang yang sama, meskipun di antara ke-2nya sama sekali tak berhubungan.

Waktu gw liburan semester kemaren, Yadi, sohib gw cerita kalo dia ngliat cewe yang make wajah gw di Semarang, ato lebih tepatnya a girl that has the same face with me, selain wajah kata dia gaya-gayanya juga mirip ama gw, dunia memang unik ya. ada yang bilang bahwa 7-10 orang di dunia memiliki wajah yang sama. Dia ketemu tu cewe waktu lagi jalan-jalan di Simpang Lima, and he said she was beautifull, hmmmm, untung gw g dilahirkan sebagai cewe, ntar banyak yang godain gw lagi, hehe. Kata Bu Titik, guru sosiologi gw waktu SMA, wajah kita ama pasangan kita itu biasanya mirip lho, just theory sih. Nah, kemaren waktu gw nonton film Chibi Maruko Chan, akhirnya gw nemuin kembaran gwyang lain, ternyata dia ada di Jepang, mungkin g ya bisa ketemu ?

Mungkin hal ini yang mengilhami Om Da Vinci bikin sosok Monalisa ya, hmmm.

Elegi Bulan Februari


Kulangkahkan kakiku di tanjakan terakhir, aah, akhirnya sampai juga aku di puncak ini, 04.03, tak akan lama lagi matahari akan muncul, membuat langit hitam kelabu ini luntur perlahan menjadi merah dan kemudian berangsur-angsur pucat membiru. Kubasuh muka dan tanganku dengan debu, kuluangkan sedikit waktu untuk-Nya. Entah sudah berapa kali aku mendaki gunung ini, memang bukan sebuah gunung yang besar, akupun sampai mengenal tanjakan dan tikungannya seperti guratan-guratan di telapak tanganku. Namun, pendakian kali ini berbeda, kali ini aku datang sendiri, aku ingin melupakanmu, meskipun aku tahu itu adalah sebuah kebohongan, tapi setidaknya aku bisa mengikhlaskanmu, dan aku tak ingin membagi momen ini dengan orang lain. Dahulu kau begitu anggun dan bersahaja, seorang gadis desa yang lugu, apa adanya. Aku heran mengapa waktu itu kau mengatakan ya kepadaku. Padahal aku bukanlah laki-laki yang pandai menyusun kata-kata manis ataupun selalu berada di dekatmu saat kau dirudung masalah, aku juga bukanlah seorang lelaki perhatian yang akan menanyakan kabarmu setiap hari ataupun memberikan hadiah-hadiah kepadamu, aku hanyalah seorang lelaki pecinta gunung dengan kehidupan yang monoton. Tapi tahukah kamu, aku bukannya tak ingin seperti pasangan-pasangan lain, semua itu karena aku tak ingin terlalu mencintaimu, ya, aku takut terlalu mencintaimu.

Matahari muncul perlahan, meruntuhkan bayang-bayang, menghangatkan bumi yang beku oleh angin pagi, tidakkah bosan dia setiap hari muncul dan tenggelam, , heh bodoh, matahari bukanlah manusia sepertiku, yang dengan mudahnya bosan dengan rutinitas. Manusia adalah pembangkang yang nyata, iblis malah menurutku makhluk yang paling taat setelah malaikat, kenapa? karena iblis tidak punya pilihan, memang mereka diciptakan untuk menjerumuskan manusia, itulah hakikat mereka diciptakan, sebagaimanapun mereka mencoba pada akhirnya berakhir di neraka juga. Manusia mempunyai pilihan-pilihan dalam hidupnya, hanya manusia bodoh saja yang menyalahkan takdir atas nasib buruknya. Hidup manusia memang sudah digariskan, tapi kita jugalah yang memilih seperti apa garis itu, lagian baik buruknya nasib tergantung bagaimana hati kita menginterpretasikannya bukan.

Dahulu kita berangan-angan bahwa kita akan hidup bersama selamanya. Kata selamanya membuatku ingin tertawa saja, itulah kata-kata bodoh yang menjadi favorit orang yang sedang jatuh cinta. Jujur saja aku lebih suka menggunakan kata kasih sayang daripada cinta. Cinta itu pembodohan terbesar umat manusia, sama bodohnya dengan seorang atheis yang menjelang ajalnya berkata, “ Katakan pada Tuhan bahwa aku tetap seorang atheis.” Cinta hanyalah permainan feromon yang akan luntur seiring waktu. Aku rasa kota itu telah banyak merubahmu, menawarkan begitu banyak kenikmatan dunia. Aku begitu mempercayaimu, seperti aku percaya pada segelap-gelapnya awan hitam yang menggelantung, akan selalu memberi air hujan yang jernih. Tapi aku yakin itu bukanlah sebuah kesalahan, karena hubungan pada dasarnya adalah saling mempercayai satu dan lainnya. Yah, mungkin kita terpisah terlalu jauh, seperti Sagitarius di ufuk timur dan Capricornus di ujung barat. Meskipun kadang terlintas dalam benakku bahwa jarak ini akan memberi arti lebih. Tapi jarak itulah mungkin yang membuatmu jenuh, hanya terbayang-bayang yang semakin lama memudar, seperti warna langit saat ini.

Yah, masa-masa itu memang indah. Masa di mana aku rela berjuang seperti air hujan dari hulu yang berpayah-payah mencapai estuari, sepertinya aku bisa melakukan segalanya untukmu, menghancurkan bantaran membentuk meadow. Tapi meskipun masa itu sudah berakhir bukan berarti aku akan berhenti berjuang, karena aku akan kembali menjadi air hujan dan aku akan terus mengukir meadow-meadow baru hingga aku mencapai estuariku. Masih ingatkah engku malam itu, setelah hujan badai aku bertandang ke rumahmu, karena alasan bodoh 3 hari aku tak bersua denganmu, heh, mungkin hanya orang bodoh yang mau menempuh jarak 30 km di cuaca seperti itu, dan kita berciuman malam itu. Tapi sekali lagi itu semua hanya akan menjadi kepingan-kepingan memori indah di masa lalu, yang mungkin akan hilang saat aku senja.

Tak terasa sudah hampir 4 jam aku berdiam diri di sini, seekor elang berpusing pelan, bebas, memandang luas hamparan lembah. Matahari meninggi seolah mengejekku, ah, mungkin sudah saatnya aku harus segera beranjak. Jalan turun terkadang membutuhkan lebih banyak perjuangan daripada saat kita mendaki Mungkin lain kali, saat aku menginjakkan kakiku di puncak bukit ini aku akan dalam keadaan yang lebih baik. Semoga seiring berakhirnya pendakian ini aku akan bisa mengikhlaskanmu, dan semoga engkau bahagia, aamiien.

Kamar Gelap, 6 Agustus 2009

Terima kasih buat sahabat di Semarang atas kisah hidupnya yang tragis, hehe, sekali-kali gw nulis yang tentang romansa ah, biar dikira anak muda, meskipun masih absurd sih, but enjoy it.
It's just a fiction lho.

03 Agustus 2009

La Mar


Aku ingin menjadi seperti matahari,
Yang tak pernah lelah memberikan cahaya,
Aku ingin menjadi seperti bulan,
Yang menerangi sela-sela gelap malam,
Aku ingin menjadi seperti bintang utara,
Yang selalu menuntun para pengelana,
Aku ingin menjadi seperti bintang timur,
Yang semakin terang saat malam semakin muram,
Aku ingin menjadi angin di bulan Maret,
Yang bertiup bersama harapan-harapan,
Aku ingin menjadi seperti pohon oak,
Yang semakin teduh saat bertambah usia,
Aku ingin menjadi seperti pohon kurma,
Yang menaungi manusia dari teriknya padang pasir,
Aku ingin menjadi seperti dandelion,
Yang terbang anggun bersama angin,
Aku ingin menjadi seperti edelweiss,
Yang hidup di puncak-puncak gunung tertinggi,
Aku ingin menjadi seperti ilalang,
Yang bernyanyi riang saat angin berhembus,
Aku ingin menjadi seperti salmon merah,
Yang berani melawan arus,
Aku ingin menjadi seperti narwhal,
Yang dengan gagah mengarungi ganasnya lautan,
Aku ingin menjadi seperti burung camar,
Yang tak pernah lupa jalan pulang,
Aku ingin mehjadi seperti ular,
Yang tak pernah mengenal usia,
Aku ingin menjadi seperti Levanter,
Yang membisikkan bahasa gurun dari benua seberang,
Aku ingin menjadi seperti Gulfstream dan Labrador,
Yang memberi makan para ikan,
Aku ingin menjadi seperti awan comullus,
Yang selalu memberi tangisan kebahagiaan,
Aku ingin menjadi seperti El Nino,
Yang tak seorangpun bisa menahannya,
Aku ingin menjadi seperti pelangi,
Yang selalu menghiasi bumi meskipun ia tak pernah menyentuhnya,
Aku ingin menjadi seperti petra,
Yang berdiri megah di antara batu karang,
Aku ingin menjadi seperti fyord,
Yang mengalir indah di sela-sela tebing terjal
Aku ingin menjadi seperti kegelapan,
Yang ada melahirkan terang,
Aku ingin menjadi seperti bumi,
Yang memberi kehidupan.

Kamar Gelap, 1 Agustus 2009

18 Juni 2009

Sesaat Sebelum Keberangkatan

“ Dari arah barat di jalur 2 kereta Turangga dari Bandung jurusan Kediri akan lewat, harap hati-hati!”, suara petugas penjaga stasiun membangunkan stasiun kecil yang terlihat muram karena hujan sejak siang tadi. Kereta eksekutif itu lewat begitu saja, tak menggubris sedikit pun stasiun kecil ini, kecuali suara klaksonnya yang memekakan telinga. Memang stasiun ini hanya melayani trayek kereta kelas ekonomi. Bumiwaluya, ya atau tanah yang hidup itu nama stasiun kecil ini, sebuah stasiun kecil di atas bukit di selatan Kabupaten Garut. Keretaku dijadwalkan masih seperempat jam lagi, meskipun aku tak yakin dia akan datang tepat waktu. Memang sudah menjadi kebiasaan, seolah-olah tepat waktu adalah sebuah aib.

Sudah setengah jam aku duduk di kursi dengan cat hijau tuanya yang mengelupas di sana-sini. Suasana stasiun ini masih sama dengan yang sebelum-sebelumnya, dengan 2 jalur relnya yang kaku, mushola kecil di pojokan peron, dan sebuah toko kecil yang menjual berbagai macam makanan. Aku bukan orang yang begitu percaya dengan teori relativitas waktunya Einstein, aku yakin Einstein menciptakan teorinya saat dia jatuh cinta karena ia tak mau semua yang ia alami tak dapat dijelaskan dengan teori fisika, namun setengah jam ini terasa begitu lama bagiku. Aku tak berharap dia datang, bukankah sebelum-sebelumnya kepergianku juga seperti ini juga, aku hanyalah sebuah noktah kecil yang tak seorang pun menyadari saat noktah itu lenyap. Kupandangi pintu masuk stasiun itu, masih berharap seseorang yang kukenal mengantarkan kepergianku. Heh, aku tak tahu mengapa aku menjadi begitu melankolis seperti ini, mungkinkah suasana hari yang muram durja dirundung hujan ini merasuk ke dalam diriku?

5 menit berlalu, aku memang bukan pecandu rokok, tapi kucoba menyulut sebatang rokok putih, siapa tahu dapat mengusir dingin. Petang menjelang begitu saja, batas antara sisa-sisa cahaya dengan kepingan-kepingan malam, meskipun itu semua masih terasa bias bagiku. Masih saja kupandangi pintu masuk itu, hampa, hanya rintik-rintik hujan yang mulai menjinak menyisakan genangan air dan tanah becek. Ah, andai saja dia datang.

“ Dari arah timur di jalur 2 kereta ekonomi Pasudan tujuan Bandung akan segera tiba, perhatikan barang bawaan anda dan selamat jalan.” Kata-kata yang sudah ingin kudengar sejak tadi, selama itu 2 batang rokok sudah habis terbakar menjadi abu. Tapi lumayan juga, hanya telat 10 menit. Keretaku akhirnya tiba, dari kejauhan terlihat lampu sorotnya membelah remang-remang petang yang menusuk, remnya berdecit menggigit rel yang dingin menimbulkan suara yang menyayat hati. Lucu juga, hanya aku satu-satunya penumpang dari stasiun ini, aku merasa seolah-olah kereta itu kendaraan pribadi milikku, haha dasar bodoh. Sesaat aku melihat lagi ke pintu masuk, sekali lagi berharap orang yang kukenal berdiri di situ melambaikan tangannya atau mengatakan kata-kata perpisahan yang manis kepadaku. Aah, manusia memang cenderung ingin melihat apa yang ingin dilihatnya daripada apa yang benar-benar dilihatnya, meskipun aku benci mengakui, tapi itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Yah, inilah realita. Kupandangi penjuru peron sesaat sebelum aku masuk ke dalam gerbong, sudut-sudut peron itu seakan menarikku, tak rela aku pergi, memintaku untuk tetap tinggal, ada sedikit perasaanku yang terpaut di tempat ini. Aku hanya tersenyum, manusia itu memang dasarnya penyendiri, manusia dilahirkan sendiri, matipun sendiri, tapi apakah yang menyebabkan eksistensi manusia itu sendiri kecuali pengakuan orang lain, ya, manusia biarpun penyendiri namun dalam hatinya dia membutuhkan pengakuan dari orang lain.

Kulangkahkan kakiku memasuki gerbong yang seolah menawarkan kehangatan, masih banyak tempat duduk yang kosong karena memang hari ini bukanlah hari libur ataupun hari besar. Kucari tempat duduk di dekat jendela, agar aku bisa menyaksikan matinya hari ini, bukankah hari itu dilahirkan dan dibunuh oleh matahari, darahnyalah yang membuat petang berwarna semburat kemerahan, meskipun saat ini alih-alih berwarna merah, langit lebih kelihatan seperti kumpulan jelaga.
Kereta mulai berjalan perlahan, mengumpulkan kekuatan untuk berlari menembus hujan. Kupandangi pintu masuk itu sekali lagi, aku tersenyum, “ Aah, andai saja dia datang.”

Inilah dongeng hasil kreasi gw yang pertama kali gw posting ke blog ini, parah sih, but enjoy it.

16 Juni 2009

1 Litre Of Tears

Gw bukan tipe orang penyuka dorama, tapi I think this dorama is different one. One litre of tears, terdengar melankoli, namun di balik kemelankolian judulnya there are so much courages to face our life.

Jadi seminggu sebelum UTS lalu, gw liat di laptopnya si Syamsudini Harahap, (cowo jadi-jadian di kelas gw, iiih g ngeri-ngeri dah), 11 file one litre of tears, berhubung gw penasaran ama ni dorama maka gw copy. Sebenernya dorama ini udah ditayangin di TV waktu gw kelas 2 SMA dulu, beruntungnya waktu gw SMA gw berpikir bahwa liat TV adalah suatu pemborosan waktu dan acara-acara di TV adalah pembodohan ( penyangkalan bahwa di kost g ada TV, hehe), maka gw melewatkan acara ini, kecuali cerita-cerita tentang film ini dari para penggemar beratnya, Jono, Boim, Sulink Bambu, Utin, dan banyak orang yang bilang how touchy this film is.

Episode pertama gw tonton selepas kuliah, kira-kira jam 4, terus, terus, terus lanjut mpe episode 11 dan akhirnya selesai jam 1 malam, berhenti kecuali makan, sholat, mandi? libur dulu, hehe, u know, it’s suck guessing something. Dan hasilnya suasana sedih film itu sempat kebawa ke dalam kehidupan gw, hari berikutnya bawaannya jadi sedih mulu, haha, dasar. Si Rifky yang awal-awalnya ngetawain gw karena gw sepet berkaca-kaca dan “ hampir” nangis saat nonton ni dorama, setelah dia nonton ni dorama akhirnya gantian gw yang ketawa, dia "bener-bener mau nangis" kalo aja g liat Dani yang terisak dan dengan jaimnya ngaku kalo dia lagi pilek, dan yang paling konyol mereka ber-2 ngga rela film ini diakhiri dengan kematian Aya-chan, hahaha demo aja sana ma yg buat film. Tapi yang pasti kita adalah gerombolan cowo berhati lembut, haha.

Jadi dorama ini diilhami dari kisah nyata seorang gadis Jepang bernama Ikeuchi Aya, seorang gadis Jepang yang menderita penyakit Spinocerebellar Degenariton, sebuah penyakit bawaan yang mempengaruhi fungsi motorik, dikarenakan terjadi kerusakan pada otak kecil dan sum-sum syaraf tulang belakang, and unfortunately this is incurable. Penyakit ini perlahan-lahan menyerang sistem motorik, mulai dari kemampuan berjalan, menulis, berbicara, hingga akhirnya seseorang yang menderita penyakit ini tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan makan. Spinocerebellar Degeneration sendiri ada banyak jenisnya, dulu waktu kelas 3 SMA, waktu pelajaran biologi tentang gen, kayaknya ada yang presentasi tentang salah satu penyakit ini dah, ataxia syndrome, kelompok siapa ya? Tapi gw kira mereka terilhami dari film ini. Aya-Chan diperankan oleh Sawajiri Erika, and she has so cute smile.

Kenapa judulnya One Litre Of Tears? Karena dorama ini dibuat berdasar diary Aya-Chan, sejak dia didiagnosa terkena penyakit ini pada usia 14 sampai dia meninggal pada usia 25 tahun pada tahun 1988, dan di lembaran-lembaran diary tersebut terdapat banyak bekas tetesan air mata. Sejak pertama diterbitkan bukunya sudah menginspirasi banyak orang dan sudah terjual lebih dari 18 juta copy. Salah 1 quote yang gw suka adalah " What's wrong with falling down? Because as long as I stand up again it'll be just fine."

Banyak nilai-nilai dalam film ini, tapi yang paling menonjol adalah bagaimana kita menghargai hidup ini dan mensyukuri apa yang kita punya dan bagaimana supaya hidup kita ini dapat berguna bagi orang lain apapun keadaan kita. Selain itu tentang bagaimana keluarga itu seharusnya, sumpah gw simpatik banget ma keluarga Ikeuchi, I think their family is image of perfect family. Dan apa itu kasih sayang serta bagaimana menjadi sahabat yang bener-bener sahabat. So I recommend you to this dorama.

PS: Jangan buka apapun tentang Sawajiri Erika di yahoo ataupun google ataupun search engine lainnya, itu bener-bener akan menghancurkan bayangan lw tentang Aya-Chan. Sakit hati gw ma Yahoo & Google.