10 Agustus 2009

Antara Jihad dan Sahid, Long Road to Heaven

Satu lagi tokoh teroris tewas, Noordin M. Top, petinggi organisasi Islam radikal dan most wanted nomor 1 di Indonesia. Dari sini kita gunakan tokoh antagonis aja ya, soalnya menurut gw kata teroris kurang tepat digunakan, terlalu mendiskreditkan. Keinginan agar syariat Islam diterapkan di Indonesia membuat mereka melakukan berbagai pengeboman. Organisasinya sendiri diduga sempalan dari JI yang ingin syariat Islam ditegakkan di seluruh Asia Tenggara, namun pada dasarnya cara dan pemahaman mereka akan apa itu jihad adalah sama.



Sebenarnya apa sih jihad itu?

Jihad adalah berjuang dengan niat sungguh-sungguh menurut syariat Islam demi tegaknya Din. Konteks jihad sendiri saat ini lebih diidentikan banyak orang dengan perang secara fisik, padahal jihad adalah segala hal yang dilakukan agar Islam tetap tegak, termasuk menjaga sikap diri kita sendiri adalah termasuk jihad. Kalau kita tilik cara perjuangan tokoh-tokoh antagonis saat ini, mereka tidak lebih dari orang yang tersesat dan salah jalan. Perang yang mengatasnamakan Islam tapi tidak sesuai sunnah rasul tidak bisa disebut jihad. Tindakan pengeboman mereka tidak lebih dari tindakan pengecut dan bodoh, termasuk tindakan Osama bin Laden yang mengebom WTC, meskipun menurut gw keren, but that was so low, berapa banyak wanita dan anak-anak yang mati saat itu. Pada jaman Rasulullah, para mujahidin benar-benar menjaga etika perang. Mereka mengirimkan pesan kepada musuh sebelum perang; tidak membunuh wanita, anak-anak, dan orang tua; tidak mengganggu orang yang beribadah, dan banyak lagi etika-etika lainnya dan menurut gw hal itu masih relevan diterapkan saat ini. Tapi apa yang dilakukan tokoh-tokoh antagonis saat ini, meledakkan bom di mana-mana, meskipun dalam konteks mereka tempat yang diledakkan adalah kepunyaan orang kafir, tapi bukankah mereka termasuk kafir dzimmi, dilindungi oleh negara, tidak boleh diperangi, harta dan keselamatan merekapun dijamin. Bukankah Islam adalah agama damai. Alih-alih menimbulkan kesan tersebut, mereka malah mencoreng wajah Islam saat ini.

Sahid, itulah kata-kata yang selalu diucapkan para tokoh-tokoh antagonis. Mereka berpikir bahwa dengan meledakkan diri, mereka akan dibukakan pintu surga lebar-lebar, heh, don’t make me laugh. Dalam Al Qu’ran dengan jelas dikatakan,

“ Dan janganlah kalian membunuh diri kalian , sesungguhnya Allah Maha Menyayangi kalian.” ( QS 4 : 29)
Lalu ada juga sebuah hadist,

“ Barangsiapa yang bunuh diri dengan menggunakan suatu alat/ cara di dunia, maka ia akan disiksa dengan cara itu pada hari kiamat.” ( HR Bukhari Muslim).

Sebenarnya siapa sih panutan mereka, Qu’ran dan sunnah kah? Ataukah bualan pemimpin mereka yang memerintahkan mereka mati konyol? Sahid menurut gw adalah reward dari sebuah perjuangan, jadi essensi dari sahid sendiri adalah didapatkan dan bukan dicari. Tapi apa yang dilakukan tokoh-tokoh antagonis kita, mereka mencari mati, kemana-mana memakai rompi dengan bom, menjadi public enemy. Apakah ada dari mujahidin yang bertujuan mati saat berjihad? Kalau semua bertujuan mati saat berjihad siapakah yang akan berjuang untuk memperoleh kemenangan, setidaknya mereka berjuang untuk hidup, dan kalau mereka matipun maka alhamdulillah, surga mereka dapatkan. Setidaknya pilihlah cara mati yang lebih ksatria dan keren, tidak mati karena bom sendiri dan tubuh hancur berantakan. That’s so cupu & absolutely ngga’ keren. Gw tahu mereka adalah kumpulan manusia-manusia pintar, kita liat aja Doktor Azahari, penyandang gelar PHd, Noordin M. Top,si perekrut anggota-anggota baru, pastilah sosok yang berkharismatik dan ahli dakwah, butuh waktu lama untuk dat 88 menemukan mereka, tapi apa? Mereka berakhir ditembus peluru, sungguh sangat disayangkan, padahal banyak hal yang dapat mereka lakukan demi agama Islam.

Sebenarnya apa sih motif mereka melakuan hal ini?

Keinginan agar syariat Islam diterapkan di Indonesia kah? Tapi menurut gw lebih kepada ketidakpuasan akan pemerintahan. Departemen Agama sendiri saat ini kredibilitasnya meragukan, meskipun gw tahu mengatur 200 juta umat Islam bukanlah hal yang mudah. Fungsi Departemen Agama sendiri saat ini lebih banyak digantikan oleh organisasi-organisasi Islam. Contoh simple aja, berapa banyak fatwa mengenai jatuhnya awal puasa dan lebaran. Tidak seperti kebanyakan negara-negara di jazirah arab, di sana ditunjuk seorang mufti yang akan mengeluarkan fatwa dan hebatnya seluruh umat mengikuti, coba di Indonesia seperti itu. Gw ngga’ mengatakan bahwa fatwa-fatwa di sini salah, itu semua benar, karena mereka mempunyai dasar akan fatwa-fatwa mereka, kalau gw sih menganggap itu sebagai kedinamisan Islam saja. Tapi meskipun begitu, apa sih yang MUI selama ini lakukan? Alih-alih mengeluarkan fatwa yang diikuti banyak orang, fatwa-fatwa mereka banyak dihina orang, berapa orang sih yang bener-bener mematuhi fatwa merokok, juga fatwa tentang Ahmadiyah yang berlarut-larut, hal ini menunjukkan bahwa kredibilitas mereka bener-bener diragukan. Menurut gw daripada mereka berdebat-debat dan mengeluarkan fatwa ngga penting, lebih baik MUI lebih banyak melakukan dakwah dan penyuluhan-penyuluhan. Gw kira hal tersebut lebih berguna buat mencegah adanya tokoh-tokoh antagonis baru dan juga banyaknya penistaan agama. Sebenernya hukum di Indonesia ini ngga’ salah kok, cuma pelaksanaannya aja yang ngga bener, di sinilah seharusnya MUI masuk, meskipun kita juga harus berpartisipasi. Kalaupun syariat Islam bener-bener diterapkan di Indonesia, berapa banyak gerakan separatis yang akan muncul dari saudara-saudara kita di bagian timur Indonesia yang mayoritas nasrani.

Tapi tetap cara paling ampuh dalam mencegah munculnya tokoh-tokoh antagonis baru adalah instropeksi diri kita sendiri. Kita mulai jihad dari diri kita sendiri. Bagi saudara-saudara gw yang salah jalan, kalian belum tersesat terlalu jauh, yang perlu kalian lakukan hanyalah sedikit belok ke kiri. Masih banyak ladang jihad selain dengan cara anarkis, bukankah Islam adalah rahmatan lil alamin, sebarkanlah Islam dalam damai seperti cara Rasulullah. Membunuh orang bukanlah hal yang mudah, apalagi membunuh diri sendiri. So just back to Qu’ran & Assunnah.

Kamar Gelap, 9 Agustus 2009

PS : perasaan gw terlalu banyak mengunakan kata bodoh dah, ini bukan berarti gw pinter lho, watashi no baka moo, makanya gw belajar, tapi ini kan blog gw jadi hak gw dhonk mau pake kata apa, yang ngga’ setuju ke laut aja dah, hehehehe,. (so song-ongs)
Berita terakhir mengatakan ternyata yang meninggal di temanggung bukan Noordin M. Top, tapi Ibrohim, ya sudahlah, met nyari Om Noordin lagi deh Dat 88, ganbatte ne!

07 Agustus 2009

Chibi Maruko-Chan And I




Dualisme, 2 sisi, 2 hal yang belawanan, 2 hal yang berbeda, seperti yin dan yang, ato adanya siang dan malam, kebaikan dan keburukan, awal dan akhir, kehidupan dan kematian.Tapi di samping itu di dunia ini terkadang ada hal-hal yang yang sama, meskipun di antara ke-2nya sama sekali tak berhubungan.

Waktu gw liburan semester kemaren, Yadi, sohib gw cerita kalo dia ngliat cewe yang make wajah gw di Semarang, ato lebih tepatnya a girl that has the same face with me, selain wajah kata dia gaya-gayanya juga mirip ama gw, dunia memang unik ya. ada yang bilang bahwa 7-10 orang di dunia memiliki wajah yang sama. Dia ketemu tu cewe waktu lagi jalan-jalan di Simpang Lima, and he said she was beautifull, hmmmm, untung gw g dilahirkan sebagai cewe, ntar banyak yang godain gw lagi, hehe. Kata Bu Titik, guru sosiologi gw waktu SMA, wajah kita ama pasangan kita itu biasanya mirip lho, just theory sih. Nah, kemaren waktu gw nonton film Chibi Maruko Chan, akhirnya gw nemuin kembaran gwyang lain, ternyata dia ada di Jepang, mungkin g ya bisa ketemu ?

Mungkin hal ini yang mengilhami Om Da Vinci bikin sosok Monalisa ya, hmmm.

Elegi Bulan Februari


Kulangkahkan kakiku di tanjakan terakhir, aah, akhirnya sampai juga aku di puncak ini, 04.03, tak akan lama lagi matahari akan muncul, membuat langit hitam kelabu ini luntur perlahan menjadi merah dan kemudian berangsur-angsur pucat membiru. Kubasuh muka dan tanganku dengan debu, kuluangkan sedikit waktu untuk-Nya. Entah sudah berapa kali aku mendaki gunung ini, memang bukan sebuah gunung yang besar, akupun sampai mengenal tanjakan dan tikungannya seperti guratan-guratan di telapak tanganku. Namun, pendakian kali ini berbeda, kali ini aku datang sendiri, aku ingin melupakanmu, meskipun aku tahu itu adalah sebuah kebohongan, tapi setidaknya aku bisa mengikhlaskanmu, dan aku tak ingin membagi momen ini dengan orang lain. Dahulu kau begitu anggun dan bersahaja, seorang gadis desa yang lugu, apa adanya. Aku heran mengapa waktu itu kau mengatakan ya kepadaku. Padahal aku bukanlah laki-laki yang pandai menyusun kata-kata manis ataupun selalu berada di dekatmu saat kau dirudung masalah, aku juga bukanlah seorang lelaki perhatian yang akan menanyakan kabarmu setiap hari ataupun memberikan hadiah-hadiah kepadamu, aku hanyalah seorang lelaki pecinta gunung dengan kehidupan yang monoton. Tapi tahukah kamu, aku bukannya tak ingin seperti pasangan-pasangan lain, semua itu karena aku tak ingin terlalu mencintaimu, ya, aku takut terlalu mencintaimu.

Matahari muncul perlahan, meruntuhkan bayang-bayang, menghangatkan bumi yang beku oleh angin pagi, tidakkah bosan dia setiap hari muncul dan tenggelam, , heh bodoh, matahari bukanlah manusia sepertiku, yang dengan mudahnya bosan dengan rutinitas. Manusia adalah pembangkang yang nyata, iblis malah menurutku makhluk yang paling taat setelah malaikat, kenapa? karena iblis tidak punya pilihan, memang mereka diciptakan untuk menjerumuskan manusia, itulah hakikat mereka diciptakan, sebagaimanapun mereka mencoba pada akhirnya berakhir di neraka juga. Manusia mempunyai pilihan-pilihan dalam hidupnya, hanya manusia bodoh saja yang menyalahkan takdir atas nasib buruknya. Hidup manusia memang sudah digariskan, tapi kita jugalah yang memilih seperti apa garis itu, lagian baik buruknya nasib tergantung bagaimana hati kita menginterpretasikannya bukan.

Dahulu kita berangan-angan bahwa kita akan hidup bersama selamanya. Kata selamanya membuatku ingin tertawa saja, itulah kata-kata bodoh yang menjadi favorit orang yang sedang jatuh cinta. Jujur saja aku lebih suka menggunakan kata kasih sayang daripada cinta. Cinta itu pembodohan terbesar umat manusia, sama bodohnya dengan seorang atheis yang menjelang ajalnya berkata, “ Katakan pada Tuhan bahwa aku tetap seorang atheis.” Cinta hanyalah permainan feromon yang akan luntur seiring waktu. Aku rasa kota itu telah banyak merubahmu, menawarkan begitu banyak kenikmatan dunia. Aku begitu mempercayaimu, seperti aku percaya pada segelap-gelapnya awan hitam yang menggelantung, akan selalu memberi air hujan yang jernih. Tapi aku yakin itu bukanlah sebuah kesalahan, karena hubungan pada dasarnya adalah saling mempercayai satu dan lainnya. Yah, mungkin kita terpisah terlalu jauh, seperti Sagitarius di ufuk timur dan Capricornus di ujung barat. Meskipun kadang terlintas dalam benakku bahwa jarak ini akan memberi arti lebih. Tapi jarak itulah mungkin yang membuatmu jenuh, hanya terbayang-bayang yang semakin lama memudar, seperti warna langit saat ini.

Yah, masa-masa itu memang indah. Masa di mana aku rela berjuang seperti air hujan dari hulu yang berpayah-payah mencapai estuari, sepertinya aku bisa melakukan segalanya untukmu, menghancurkan bantaran membentuk meadow. Tapi meskipun masa itu sudah berakhir bukan berarti aku akan berhenti berjuang, karena aku akan kembali menjadi air hujan dan aku akan terus mengukir meadow-meadow baru hingga aku mencapai estuariku. Masih ingatkah engku malam itu, setelah hujan badai aku bertandang ke rumahmu, karena alasan bodoh 3 hari aku tak bersua denganmu, heh, mungkin hanya orang bodoh yang mau menempuh jarak 30 km di cuaca seperti itu, dan kita berciuman malam itu. Tapi sekali lagi itu semua hanya akan menjadi kepingan-kepingan memori indah di masa lalu, yang mungkin akan hilang saat aku senja.

Tak terasa sudah hampir 4 jam aku berdiam diri di sini, seekor elang berpusing pelan, bebas, memandang luas hamparan lembah. Matahari meninggi seolah mengejekku, ah, mungkin sudah saatnya aku harus segera beranjak. Jalan turun terkadang membutuhkan lebih banyak perjuangan daripada saat kita mendaki Mungkin lain kali, saat aku menginjakkan kakiku di puncak bukit ini aku akan dalam keadaan yang lebih baik. Semoga seiring berakhirnya pendakian ini aku akan bisa mengikhlaskanmu, dan semoga engkau bahagia, aamiien.

Kamar Gelap, 6 Agustus 2009

Terima kasih buat sahabat di Semarang atas kisah hidupnya yang tragis, hehe, sekali-kali gw nulis yang tentang romansa ah, biar dikira anak muda, meskipun masih absurd sih, but enjoy it.
It's just a fiction lho.

03 Agustus 2009

La Mar


Aku ingin menjadi seperti matahari,
Yang tak pernah lelah memberikan cahaya,
Aku ingin menjadi seperti bulan,
Yang menerangi sela-sela gelap malam,
Aku ingin menjadi seperti bintang utara,
Yang selalu menuntun para pengelana,
Aku ingin menjadi seperti bintang timur,
Yang semakin terang saat malam semakin muram,
Aku ingin menjadi angin di bulan Maret,
Yang bertiup bersama harapan-harapan,
Aku ingin menjadi seperti pohon oak,
Yang semakin teduh saat bertambah usia,
Aku ingin menjadi seperti pohon kurma,
Yang menaungi manusia dari teriknya padang pasir,
Aku ingin menjadi seperti dandelion,
Yang terbang anggun bersama angin,
Aku ingin menjadi seperti edelweiss,
Yang hidup di puncak-puncak gunung tertinggi,
Aku ingin menjadi seperti ilalang,
Yang bernyanyi riang saat angin berhembus,
Aku ingin menjadi seperti salmon merah,
Yang berani melawan arus,
Aku ingin menjadi seperti narwhal,
Yang dengan gagah mengarungi ganasnya lautan,
Aku ingin menjadi seperti burung camar,
Yang tak pernah lupa jalan pulang,
Aku ingin mehjadi seperti ular,
Yang tak pernah mengenal usia,
Aku ingin menjadi seperti Levanter,
Yang membisikkan bahasa gurun dari benua seberang,
Aku ingin menjadi seperti Gulfstream dan Labrador,
Yang memberi makan para ikan,
Aku ingin menjadi seperti awan comullus,
Yang selalu memberi tangisan kebahagiaan,
Aku ingin menjadi seperti El Nino,
Yang tak seorangpun bisa menahannya,
Aku ingin menjadi seperti pelangi,
Yang selalu menghiasi bumi meskipun ia tak pernah menyentuhnya,
Aku ingin menjadi seperti petra,
Yang berdiri megah di antara batu karang,
Aku ingin menjadi seperti fyord,
Yang mengalir indah di sela-sela tebing terjal
Aku ingin menjadi seperti kegelapan,
Yang ada melahirkan terang,
Aku ingin menjadi seperti bumi,
Yang memberi kehidupan.

Kamar Gelap, 1 Agustus 2009

18 Juni 2009

Sesaat Sebelum Keberangkatan

“ Dari arah barat di jalur 2 kereta Turangga dari Bandung jurusan Kediri akan lewat, harap hati-hati!”, suara petugas penjaga stasiun membangunkan stasiun kecil yang terlihat muram karena hujan sejak siang tadi. Kereta eksekutif itu lewat begitu saja, tak menggubris sedikit pun stasiun kecil ini, kecuali suara klaksonnya yang memekakan telinga. Memang stasiun ini hanya melayani trayek kereta kelas ekonomi. Bumiwaluya, ya atau tanah yang hidup itu nama stasiun kecil ini, sebuah stasiun kecil di atas bukit di selatan Kabupaten Garut. Keretaku dijadwalkan masih seperempat jam lagi, meskipun aku tak yakin dia akan datang tepat waktu. Memang sudah menjadi kebiasaan, seolah-olah tepat waktu adalah sebuah aib.

Sudah setengah jam aku duduk di kursi dengan cat hijau tuanya yang mengelupas di sana-sini. Suasana stasiun ini masih sama dengan yang sebelum-sebelumnya, dengan 2 jalur relnya yang kaku, mushola kecil di pojokan peron, dan sebuah toko kecil yang menjual berbagai macam makanan. Aku bukan orang yang begitu percaya dengan teori relativitas waktunya Einstein, aku yakin Einstein menciptakan teorinya saat dia jatuh cinta karena ia tak mau semua yang ia alami tak dapat dijelaskan dengan teori fisika, namun setengah jam ini terasa begitu lama bagiku. Aku tak berharap dia datang, bukankah sebelum-sebelumnya kepergianku juga seperti ini juga, aku hanyalah sebuah noktah kecil yang tak seorang pun menyadari saat noktah itu lenyap. Kupandangi pintu masuk stasiun itu, masih berharap seseorang yang kukenal mengantarkan kepergianku. Heh, aku tak tahu mengapa aku menjadi begitu melankolis seperti ini, mungkinkah suasana hari yang muram durja dirundung hujan ini merasuk ke dalam diriku?

5 menit berlalu, aku memang bukan pecandu rokok, tapi kucoba menyulut sebatang rokok putih, siapa tahu dapat mengusir dingin. Petang menjelang begitu saja, batas antara sisa-sisa cahaya dengan kepingan-kepingan malam, meskipun itu semua masih terasa bias bagiku. Masih saja kupandangi pintu masuk itu, hampa, hanya rintik-rintik hujan yang mulai menjinak menyisakan genangan air dan tanah becek. Ah, andai saja dia datang.

“ Dari arah timur di jalur 2 kereta ekonomi Pasudan tujuan Bandung akan segera tiba, perhatikan barang bawaan anda dan selamat jalan.” Kata-kata yang sudah ingin kudengar sejak tadi, selama itu 2 batang rokok sudah habis terbakar menjadi abu. Tapi lumayan juga, hanya telat 10 menit. Keretaku akhirnya tiba, dari kejauhan terlihat lampu sorotnya membelah remang-remang petang yang menusuk, remnya berdecit menggigit rel yang dingin menimbulkan suara yang menyayat hati. Lucu juga, hanya aku satu-satunya penumpang dari stasiun ini, aku merasa seolah-olah kereta itu kendaraan pribadi milikku, haha dasar bodoh. Sesaat aku melihat lagi ke pintu masuk, sekali lagi berharap orang yang kukenal berdiri di situ melambaikan tangannya atau mengatakan kata-kata perpisahan yang manis kepadaku. Aah, manusia memang cenderung ingin melihat apa yang ingin dilihatnya daripada apa yang benar-benar dilihatnya, meskipun aku benci mengakui, tapi itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Yah, inilah realita. Kupandangi penjuru peron sesaat sebelum aku masuk ke dalam gerbong, sudut-sudut peron itu seakan menarikku, tak rela aku pergi, memintaku untuk tetap tinggal, ada sedikit perasaanku yang terpaut di tempat ini. Aku hanya tersenyum, manusia itu memang dasarnya penyendiri, manusia dilahirkan sendiri, matipun sendiri, tapi apakah yang menyebabkan eksistensi manusia itu sendiri kecuali pengakuan orang lain, ya, manusia biarpun penyendiri namun dalam hatinya dia membutuhkan pengakuan dari orang lain.

Kulangkahkan kakiku memasuki gerbong yang seolah menawarkan kehangatan, masih banyak tempat duduk yang kosong karena memang hari ini bukanlah hari libur ataupun hari besar. Kucari tempat duduk di dekat jendela, agar aku bisa menyaksikan matinya hari ini, bukankah hari itu dilahirkan dan dibunuh oleh matahari, darahnyalah yang membuat petang berwarna semburat kemerahan, meskipun saat ini alih-alih berwarna merah, langit lebih kelihatan seperti kumpulan jelaga.
Kereta mulai berjalan perlahan, mengumpulkan kekuatan untuk berlari menembus hujan. Kupandangi pintu masuk itu sekali lagi, aku tersenyum, “ Aah, andai saja dia datang.”

Inilah dongeng hasil kreasi gw yang pertama kali gw posting ke blog ini, parah sih, but enjoy it.

16 Juni 2009

1 Litre Of Tears

Gw bukan tipe orang penyuka dorama, tapi I think this dorama is different one. One litre of tears, terdengar melankoli, namun di balik kemelankolian judulnya there are so much courages to face our life.

Jadi seminggu sebelum UTS lalu, gw liat di laptopnya si Syamsudini Harahap, (cowo jadi-jadian di kelas gw, iiih g ngeri-ngeri dah), 11 file one litre of tears, berhubung gw penasaran ama ni dorama maka gw copy. Sebenernya dorama ini udah ditayangin di TV waktu gw kelas 2 SMA dulu, beruntungnya waktu gw SMA gw berpikir bahwa liat TV adalah suatu pemborosan waktu dan acara-acara di TV adalah pembodohan ( penyangkalan bahwa di kost g ada TV, hehe), maka gw melewatkan acara ini, kecuali cerita-cerita tentang film ini dari para penggemar beratnya, Jono, Boim, Sulink Bambu, Utin, dan banyak orang yang bilang how touchy this film is.

Episode pertama gw tonton selepas kuliah, kira-kira jam 4, terus, terus, terus lanjut mpe episode 11 dan akhirnya selesai jam 1 malam, berhenti kecuali makan, sholat, mandi? libur dulu, hehe, u know, it’s suck guessing something. Dan hasilnya suasana sedih film itu sempat kebawa ke dalam kehidupan gw, hari berikutnya bawaannya jadi sedih mulu, haha, dasar. Si Rifky yang awal-awalnya ngetawain gw karena gw sepet berkaca-kaca dan “ hampir” nangis saat nonton ni dorama, setelah dia nonton ni dorama akhirnya gantian gw yang ketawa, dia "bener-bener mau nangis" kalo aja g liat Dani yang terisak dan dengan jaimnya ngaku kalo dia lagi pilek, dan yang paling konyol mereka ber-2 ngga rela film ini diakhiri dengan kematian Aya-chan, hahaha demo aja sana ma yg buat film. Tapi yang pasti kita adalah gerombolan cowo berhati lembut, haha.

Jadi dorama ini diilhami dari kisah nyata seorang gadis Jepang bernama Ikeuchi Aya, seorang gadis Jepang yang menderita penyakit Spinocerebellar Degenariton, sebuah penyakit bawaan yang mempengaruhi fungsi motorik, dikarenakan terjadi kerusakan pada otak kecil dan sum-sum syaraf tulang belakang, and unfortunately this is incurable. Penyakit ini perlahan-lahan menyerang sistem motorik, mulai dari kemampuan berjalan, menulis, berbicara, hingga akhirnya seseorang yang menderita penyakit ini tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan makan. Spinocerebellar Degeneration sendiri ada banyak jenisnya, dulu waktu kelas 3 SMA, waktu pelajaran biologi tentang gen, kayaknya ada yang presentasi tentang salah satu penyakit ini dah, ataxia syndrome, kelompok siapa ya? Tapi gw kira mereka terilhami dari film ini. Aya-Chan diperankan oleh Sawajiri Erika, and she has so cute smile.

Kenapa judulnya One Litre Of Tears? Karena dorama ini dibuat berdasar diary Aya-Chan, sejak dia didiagnosa terkena penyakit ini pada usia 14 sampai dia meninggal pada usia 25 tahun pada tahun 1988, dan di lembaran-lembaran diary tersebut terdapat banyak bekas tetesan air mata. Sejak pertama diterbitkan bukunya sudah menginspirasi banyak orang dan sudah terjual lebih dari 18 juta copy. Salah 1 quote yang gw suka adalah " What's wrong with falling down? Because as long as I stand up again it'll be just fine."

Banyak nilai-nilai dalam film ini, tapi yang paling menonjol adalah bagaimana kita menghargai hidup ini dan mensyukuri apa yang kita punya dan bagaimana supaya hidup kita ini dapat berguna bagi orang lain apapun keadaan kita. Selain itu tentang bagaimana keluarga itu seharusnya, sumpah gw simpatik banget ma keluarga Ikeuchi, I think their family is image of perfect family. Dan apa itu kasih sayang serta bagaimana menjadi sahabat yang bener-bener sahabat. So I recommend you to this dorama.

PS: Jangan buka apapun tentang Sawajiri Erika di yahoo ataupun google ataupun search engine lainnya, itu bener-bener akan menghancurkan bayangan lw tentang Aya-Chan. Sakit hati gw ma Yahoo & Google.